Peringatan Serius untuk Tata Kelola Wisata Bahari Setelah 15 Insiden Kapal Karam dalam 2 Tahun terakhir, dengan Korban Jiwa Pertama yang Menyeramkan!
LABUAN BAJO – Tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah pada 26 Desember 2025 di Selat Padar, kawasan Taman Nasional Komodo, bukan hanya menjadi momok mengerikan bagi dunia pariwisata Labuan Bajo, tetapi juga menjadi titik balik yang memaksa seluruh pihak terkait untuk melihat kembali sistem keselamatan yang selama ini dianggap “cukup baik”.
Duka cita mendalam menyelimuti seluruh lapisan masyarakat, termasuk pemerintah daerah. Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Barat, Beni Nurdin, menegaskan, musibah ini tidak bisa dianggap sepele.
“Atas nama pimpinan dan seluruh anggota DPRD Manggarai Barat, kami turut berbelasungkawa yang sedalam dalamnya. Kami berharap korban yang masih hilang segera ditemukan selamat, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan yang tak terhingga,” ujarnya dalam keterangan tertulis pada hari Rabu (31/12/2025), petang.

Pernyataan Resmi Menteri Perhubungan
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memberikan keterangan resmi mengenai insiden tenggelamnya kapal wisata KM Putri Sakinah, yang berangkat dari Pulau Komodo menuju Pulau Padar di Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 26 Desember 2025.
Dalam pernyataan ini, Menhub menunjukkan bahwa terdapat gangguan cuaca yang tidak biasa. Menurut data dari KSOP Kelas III Labuan Bajo, kondisi cuaca saat itu dilaporkan baik.
“Pada saat kejadian di Labuan Bajo, surat berlayar yang disampaikan menunjukkan bahwa cuaca cukup mendukung untuk pelayaran. Namun, pada titik tertentu, ternyata muncul gelombang yang cukup tinggi,” jelasnya dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (31/12/2025).
Menhub juga mengakui tingginya permintaan untuk layanan kapal laut selama musim Natal dan Tahun Baru (Nataru). Meski begitu, ia menekankan pentingnya memperhatikan faktor cuaca.
“Kadang-kadang, rekan-rekan kita, atau saudara-saudara kita yang sudah lama berkecimpung dalam dunia pelayaran merasa mereka mengetahui karakter wilayah dan cuacanya,” ujarnya.
“Namun, kami perlu mengingatkan bahwa karakter cuaca saat ini mungkin telah berubah dibandingkan waktu-waktu sebelumnya,” tambah Menhub.

Perairan TN Komodo Bukan Ruang Belajar
Marta Muslim (Ica), Komisaris Wicked Diving sekaligus Direktur Wicked Good Foundation yang pernah beberapa kali berlayar dengan kapal wisata, mengungkapkan bahwa kawasan perairan Taman Nasional Komodo memiliki tantangan yang berbeda dari lintasan wisata biasa.
“Perairan di sekitar Pulau Padar punya arus berputar (kala-kala) yang saling menghantam dari dua sisi. Jika terjadi gangguan mesin di sana, risikonya sangat tinggi. Perairan TNK bukan ruang belajar bagi kapten dengan jam terbang rendah,” tegas wanita yang akrab disapa Ica itu.

15 Insiden Dalam 2 Tahun Terakhir Korban Jiwa Pertama Menyeramkan
Data yang diutarakan oleh Gabriel Mahal, salah satu pengusaha pariwisata di Labuan Bajo, menunjukkan bahwa sepanjang 2024 hingga 2025 terjadi sebanyak 15 kali insiden kecelakaan kapal.
“Tahun 2024 ada 8 kali insiden, termasuk KM Budi Utama dan KM Monalisa, tapi tidak ada korban nyawa sama sekali. Tahun 2025 ada 7 kali, termasuk KM Putri Sakinah dan KM Dewi Anjani pada 29 Desember,” jelasnya.
Menurut Gabriel, perbedaan mendasar terjadi ketika kecelakaan berlangsung di malam hari.
“Sekalipun jarang terjadi, tingkat fatalitas-nya jauh lebih tinggi. Ada faktor perubahan cuaca mendadak, mati mesin tanpa visibilitas, visibilitas navigasi yang kurang dari 10%, respon evakuasi lambat, dan yang paling menyakitkan para penumpang terjebak saat tidur dalam kabin,” paparnya dengan nada prihatin.
Ia menambahkan, “Gelombang ‘Kala-Kala’ yang datang tiba-tiba, risiko menabrak karang dangkal karena tidak ada pandangan visual, kru yang kelelahan, dan sulitnya mendeteksi kerusakan mesin hingga kondisi kritis semua itu menjadi bom waktu yang siap meledak di malam hari.”

Evaluasi Total Wajib Dilaksanakan
Sementara itu, Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, menegaskan bahwa insiden ini harus menjadi titik balik bagi pengelolaan wisata bahari di Labuan Bajo.
“Kejadian ini tidak boleh dipandang sebagai kecelakaan biasa. Kami akan lakukan evaluasi total mulai dari kelayakan kapal, prosedur keselamatan, izin berlayar, hingga pengawasan di lapangan,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa keselamatan wisatawan adalah prioritas utama yang tidak bisa dikompromikan.
“Aktivitas pelayaran wajib dihentikan jika kondisi cuaca tidak memungkinkan. Jangan ada lagi kapal yang dipaksakan berlayar hanya demi kepentingan ekonomi. Ini menyangkut nyawa manusia dan nama baik Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas,” tandasnya dengan penuh tekad.











Tinggalkan Balasan