LABUAN BAJO  – Pantai Gorontalo, destinasi wisata unggulan kawasan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), kini terlihat kumuh setelah dipenuhi sampah kiriman dari daerah lain selama dua pekan terakhir.

Tak hanya kayu dan bambu, sampah plastik serta limbah organik juga menutupi bibir pantai. Kondisi ini mulai terlihat sejak Kamis (22/1) dan makin parah seiring datangnya cuaca ekstrem serta ombak tinggi yang melanda perairan sekitar Labuan Bajo.

Ombak besar tersebut diduga jadi faktor utama yang membawa sampah dari daratan melalui sungai atau selokan hingga terdampar di lokasi yang dikenal sebagai pintu gerbang menuju Taman Nasional Komodo.

Kondisi ini mengganggu pemandangan, berpotensi merusak ekosistem pesisir, dan menghambat aktivitas pariwisata.

Penanganan sudah segera dilakukan. Obe Hormat dari Sudamala Resort, dikonfirmasi media ini pada Senin (9/2) siang, mengatakan pembersihan berjalan bersama pemerintah daerah dan beberapa hotel sekitar pantai.

“Saat ini pembersihan sudah kita lakukan bersama Pemda setempat dan dukungan dari beberapa hotel yang ada di sekitar area pantai Gorontalo,” ungkapnya.

Pantauan di lapangan menunjukkan satu unit alat berat milik Dinas PUPR Kabupaten Manggarai Barat tengah membersihkan area mulai dari muara Nanga Nae, meliputi kawasan Hotel Jayakarta, hingga pantai dekat Hotel Luwansa.

Putu Alit Saputra, Resort Manager Hotel Luwansa, mengaku pihaknya melakukan pembersihan secara berkala dan tengah mengevaluasi langkah-langkah lebih lanjut.

“Saat ini kami tengah mengevaluasi langkah-langkah lebih masif, termasuk kemungkinan kolaborasi dengan hotel lain dan organisasi lingkungan buat penanganan yang berkelanjutan,” ucapnya.

Ia juga berharap pemerintah menangani sumber sampah dari daerah lain agar tidak mengganggu keindahan Labuan Bajo.

“Dinas terkait perlu kerja sama menyeluruh, terutama memperkuat pengawasan dan sistem pengelolaan sampah di wilayah perairan sekitar sini,” harapnya.

Terkait hal ini Wakil Bupati Manggarai Barat dr.Yulianus Weng, angkat bicara.

Ia menuturkan bahwa kegiatan membersihkan lingkungan dalam rangka Gerakan Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) yang digagas Presiden Prabowo Subianto sudah mulai digalakkan dari Pantai Gorontalo Labuan Bajo.

“Kegiatan yang dilakukan hari Jumat (6/02) lalu menjadi tindak lanjut langsung atas perintah dari Presiden”, ungkap Wakil Bupati Manggarai Barat dr Yulianus Weng kepada Labuan Bajo Terkini, Senin (9/02) petang.

Dalam kegiatan tersebut, sejumlah pantai di wilayah Gorontalo difokuskan untuk dibersihkan dari sampah.

Selanjutnya, mulai dari Pantai Binongko, Pantai Marina, Pantai Pede, hingga seluruh kawasan pantai di sekitar Kota Labuan Bajo ikut mendapatkan perhatian khusus.

Adapun peserta yang turut serta dalam kerja bakti ini, mulai dari dinas pemerintah daerah, anggota TNI dan Polri, instansi vertikal, hingga perwakilan BUMN/BUMD, pelaku usaha lokal, dan masyarakat umum yang antusias ikut bergotong royong.

Tak hanya sekadar satu kali, kata Wabup Weng, kedepannya Gerakan ASRI ini akan dijadikan kegiatan tetap dan rutin.

Tujuannya adalah untuk menciptakan lingkungan yang nyaman dan bersih, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan alam sekitar.

“Kegiatan ini bukan hanya tentang membersihkan sampah, tapi juga membangun kesadaran bersama bahwa kita semua punya tanggung jawab untuk menjaga lingkungan agar tetap aman, sehat, resik, dan indah,” ujarnya.

Perlu diketahui, Ibukota Kabupaten Manggarai Barat, Labuan Bajo, menghadapi timbulan sampah sebanyak 147,31 ton per hari pada tahun 2025, dengan lebih dari separuhnya (57,16 persen) berhasil dikelola.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kebersihan dan Pertanahan Manggarai Barat, Vinsensius Gande, kepada wartawan menyampaikan pemerintah daerah telah menyediakan sarana yang memadai.

“Di TPA Warloka, tersedia landfill, excavator, hanggar alat berat, dua incenerator, serta alat berat lainnya. Selain itu, 12 TPS dan 3 TPS3R telah dibangun di lokasi strategis seperti pasar, pelabuhan, bandara, serta di PDU Labuan Bajo, IWP Wae Kelambu, dan KSU Sampah Komodo,” pungkasnya.

Permasalahan sampah kiriman di pantai tak bisa disepelekan, dibutuhkan kerja sama kolaboratif antara pemerintah dan masyarakat untuk pembersihan rutin serta upaya pencegahan dari sumbernya.