LABUAN BAJO – Obe Hormat, Ketua Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Pemuda Manggarai Barat Bersatu (PMBB) di Labuan Bajo mengatakan bahwa risiko kecelakaan kapal di Taman Nasional Komodo dapat diminimalisir secara signifikan jika semua pihak, termasuk pemerintah, operator, awak kapal, dan wisatawan, bersinergi dan disiplin dalam mematuhi regulasi.
“Taman Nasional Komodo adalah destinasi super premium yang seharusnya menghadirkan layanan pelayaran yang aman, sehingga pengunjung dapat menikmati keindahan alam tanpa rasa khawatir,” ujar Obe Hormat kepada wartawan Labuan Bajo Terkini, Senin (29/12/2025), pagi
Ia menjelaskan bahwa beberapa insiden tenggelamnya kapal wisata di kawasan Taman Nasional Komodo menekankan pentingnya keseragaman dan disiplin dalam operasi pelayaran.
“Kejadian semacam itu tidak hanya disebabkan oleh nasib buruk, tetapi sering kali hasil dari kelalaian manusia, pelanggaran standar, kondisi kapal yang tidak layak, atau pengabaian terhadap cuaca,” ungkapnya.
Untuk menjaga keamanan Taman Nasional Komodo sebagai tujuan wisata premium, semua pihak harus bersama-sama menerapkan sepuluh (10) langkah kunci sebagai berikut.
1. Kelayakan Kapal: Prioritas Utama
Kapal wisata harus memenuhi kriteria ketat. Setiap kapal wajib memiliki izin laik laut dan dokumen resmi termasuk sertifikat keselamatan dan izin operasional.
Struktur kapal harus kokoh, bebas kebocoran, dan pengawasan terhadap modifikasi yang bisa membahayakan harus dilakukan.
Mesin dan semua alat navigasi harus diperiksa secara berkala untuk memastikan berfungsi dengan baik. Kapal wisata harus memenuhi standar yang lebih tinggi dibandingkan perahu nelayan yang tidak terkontrol.
2. Kapasitas Penumpang: Hindari Overload
Over Loading merupakan salah satu penyebab utama kecelakaan. Kapasitas penumpang, awak, logistik, air, dan bahan bakar harus diperhitungkan dengan seksama.
Penumpang juga perlu diajarkan bagaimana menyusun posisi duduk agar tidak mengganggu stabilitas kapal.
3. Kompetensi Awak Kapal: Kunci Keamanan
Nakhoda wajib memiliki sertifikat yang valid dan pelatihan navigasi, sementara awak kapal harus tahu cara menggunakan alat keselamatan dan prosedur darurat.
Sebelum berlayar, mereka juga harus memberikan briefing keselamatan kepada penumpang dengan cara yang jelas dan dapat dipahami.
4. Peralatan Keselamatan: Harus Memadai dan Berfungsi
Setiap kapal harus dilengkapi peralatan keselamatan yang cukup dan berfungsi, antara lain: Jaket pelampung sesuai jumlah penumpang (plus cadangan), Life raft atau pelampung lingkar, Alat pemadam kebakaran (APAR),Radio komunikasi dan GPS, Kotak pertolongan pertama, Lampu darurat, peluit, dan flare (penanda darurat).
5. Manajemen Cuaca & Gelombang: Nakhoda Punya Kewenangan
Jangan pernah berlayar hanya karena penumpang sudah membayar. Sebelum keberangkatan, harus dicek prakiraan cuaca dari BMKG, arah angin, dan tinggi gelombang. Nakhoda memiliki kewenangan penuh untuk menunda atau membatalkan perjalanan jika kondisi tidak aman.
Operator juga harus membuat SOP jelas tentang batas gelombang yang aman, jalur alternatif, dan titik evakuasi.
6. Rute Navigasi: Gunakan Jalur Resmi, Hindari Zona Rawan
Pelayaran harus mengikuti rute resmi yang ditetapkan, menjauhi jalur rawan karang atau ombak pecah.
Penting untuk memahami arus khas di TN Komodo beberapa titik memang memiliki arus yang sangat kuat.
Juga, jangan beroperasi malam hari jika kapal tidak memiliki fasilitas navigasi dan keamanan yang memadai.
Tempat labuh juga harus dipilih yang aman, bukan hanya karena dekat spot wisata.
7. Pengawasan & Penegakan: Pemerintah Harus Tegas!
Pemerintah dan pengelola kawasan TN Komodo perlu melakukan inspeksi rutin (pre-departure check) dan random check di laut untuk memastikan semua kapal mematuhi aturan.
Sanksi tegas harus diberikan kepada pelanggar, dan data semua kapal harus terdaftar serta terkoneksi ke sistem pengawasan yang terpadu.
8. SOP Operator: Dokumen yang Harus Dijalankan, Bukan Hanya Disimpan!
Operator kapal wisata wajib membuat Standarisasi Operasional Prosedur (SOP) yang lengkap, antara lain SOP keberangkatan, SOP saat cuaca buruk, SOP evakuasi darurat, dan SOP penyelamatan penumpang. Pentingnya, SOP tersebut tidak hanya disimpan sebagai dokumen, tapi benar-benar dijalankan oleh semua personel.
9. Edukasi Penumpang: Jadikan Keselamatan Sebagai Kultur
Wisatawan juga berperan penting dalam mencegah kecelakaan.
Sebelum berlayar, mereka harus diedukasi tentang cara pakai jaket pelampung, posisi yang aman di kapal, dan tidak mengganggu keseimbangan kapal.
Safety briefing harus menjadi bagian dari budaya perjalanan, bukan hanya ritual yang dilewati cepat.
10. Sistem Tanggap Darurat: Komunikasi Cepat dan Simulasi Rutin
Harus ada sistem komunikasi cepat antara nakhoda, Badan SAR (Basarnas), pengelola TN Komodo, dan syahbandar. Nomor darurat harus jelas dan mudah diakses.
Selain itu, simulasi penyelamatan perlu dilakukan secara rutin untuk memastikan semua pihak siap menghadapi keadaan darurat.










Tinggalkan Balasan