LABUAN BAJO TERKINI – Aktivis sosial, Doni Parera menilai keluhan Bupati Manggarai, Herybertus Geradus Laju Nabit atau Hery Nabit, mengenai Bandara Frans Sales Lega Ruteng belum bisa diharapkan sebagai sinyal ‘pesimisme kepada publik’. Ia menyebut sepinya bandara itu lantaran Bupati Hery Nabit tidak menggali akar soal, daya beli masyarakat yang kurang.
“Menjadi tanda tanya ketika bupati (Hery Nabit, red) malah sodorkan pesimisme kepada publik, saat dia mestinya dengan antusias sampaikan sikap optimis terkait Bandar Udara di Ruteng,” kata pria yang akrab disapa Doni itu, Senin (12/5).
Menurutnya yang Bupati Hery Nabit keluhkan justru apa yang mestinya jadi tugas utamanya sebagai seorang pemimpin. Bandara sepi, kata dia, karena kurangnya penumpang angkutan udara tujuan Kupang. Bahkan seringkali flight canceled karena kekurangan penumpang yang dinilai maskapai akan rugi jika mereka tetap terbang.
“Bupati tidak menggali akal soal, daya beli masyarakat yang kurang. Setelah periode pertamanya, ternyata dia tidak mampu angkat kesejahteraan masyarakat Manggarai. Pun, rayuan maut kepada calon pemilih ketika kampanye, dekat dengan pusat sehingga mudah akses dana untuk membangun,” ungkap Doni.
“Lalu, tamatan sekolah luar negeri, sehingga bisa berpikir out of the box untuk bangun daerah. Semua tidak terbukti,” tambahnya.
Doni mengurai masyarakat dua kabupaten, yaitu Manggarai dan Manggarai Timur dan juga sebagian Manggarai Barat sangat mungkin gunakan Bandara Frans Sales Lega Ruteng untuk transportasi ke Kupang.
Dirinya mencontohkan bagaimana tiap pekan ribuan orang gunakan jasa penyeberangan Feri-ASDP ke Kupang, berjejal selama berjam-jam sampai ada yang tidur di tangga kapal mereka tetap rela. “Karena itu sesuai dengan daya beli,” katanya.
Ia mengaku belum lagi yang dari Ruteng, habiskan waktu lebih banyak untuk jangkau Pelabuhan Aimere–nginap semalam menunggu kedatangan kapal Feri di sana.
Ihwal pernyataan Hery Nabit, Doni menilai, sebuah tamparan bagi dirinya sendiri tanpa melahirkan solusi agar Bandara Frans Sales Lega di Ruteng itu bisa dikeloa dengan optimal.
“Jadi, sambutan pak Bupati itu menurut saya adalah sebuah tamparan bagi dirinya sendiri. Solusi bagi Bandara sepi? Makmurkan masyarakat sesuai janji kampanye, sehingga punya daya beli yang besar, dan kemudian mampu bepergian keluar dengan moda angkutan udara,” tegas Ketua LSM Insan Lantang Mulia (ILMU) itu.
“Bahkan, tidak tertutup kemungkinan maskapai akan buka rute lain selain Kupang jika daya beli masyarakat bisa kuat,” pungkasnya.
Sebelumnya, Bupati Manggarai, Hery Nabit mengakui bahwa salah satu tantangan pariwisata di daerahnya saat ini terkendala transportasi udara. Ia menyebut Bandara Frans Sales Lega di Ruteng belum bisa diharapkan karena penerbangan masih terbatas.
Hal itu diungkapkannya saat menghadiri penandatangan kerja sama antara Sudamala Resort dengan Keuskupan Ruteng untuk membangun resor tenda di pinggiran kota Ruteng dalam waktu dekat, di Hotel Sudamala Resort Labuan Bajo, Sabtu (10/5) kemarin.
“Memang untuk penerbangan ke Ruteng kita belum bisa berharap banyak. Kalau kita lihat penataan bandara di Ruteng itu bandara yang unik se-Indonesia. Karena tujuannya cuma satu, maskapai juga satu,” ujar Hery Nabit.
Ia mengatakan penerbangan di Bandara Frans Sales Lega hanya dilayani satu maskapai. Bandara tersebut hanya melayani satu rute pulang-pergi, Ruteng-Kupang. Itu pun dengan jadwal penerbangan tidak menentu.
“Maskapainya cuma Wings Air, itu pun cuma tiga kali satu Minggu. Kalau penumpangnya penuh, kalau penumpangnya tidak penuh maskapai berhak membatalkan tanpa kompensasi,” katanya. Oleh karenanya, ujar Bupati Hery, Bandara Internasional Komodo Labuan Bajo menjadi harapan sebagai pintu masuk kunjungan wisatawan ke Flores bagian timur termasuk Manggarai.











Tinggalkan Balasan