AMSTERDAM – Setelah berangkat dari Valenciennes, Prancis pada pukul 8.20 malam, kami tiba di Amsterdam sekitar pukul 11.30 malam, Minggu, (7/12/2025).
Perjalanan kami sangat lancar tanpa kendala, sesungguhnya seperti perjalanan di jalan tol.
Ketika mendekati Amsterdam, lalu lintas padat namun tetap mengalir, tidak tersendat. Sangat berbeda dengan Jakarta!
Setelah melewati Belgia, bus kami mulai menuruni jalan yang landai. Semakin lama, perjalanan semakin jauh tetapi terus menurun, hingga akhirnya kami tiba di Amsterdam.
Bentuk tanah yang rata menunjukkan bahwa kota ini berada di bawah permukaan laut.
Nama Amsterdam berasal dari “Amstel” (sungai) dan “dam” (bendungan), yang berarti berfungsi sebagai bendungan yang mengatur aliran Sungai Amstel.
Kota ini terletak hampir 2 meter di bawah permukaan laut.
Untuk menahan air laut, dibangunlah polder yang kuat dan tahan lama.
Sebuah risalah menjelaskan bahwa daya tahan polder dihitung berdasarkan curah hujan selama bertahun-tahun.
Polder-polder di Belanda memiliki daya tahan yang bisa mencapai 10 ribu tahun, dihitung dari siklus curah hujan yang diukur dari waktu pendek hingga sangat panjang.
Rencana pembangunan Bendungan Raksasa di utara Jakarta sebagai langkah antisipasi untuk mencegah tenggelamnya kota tersebut telah dibuat mengikuti pola yang sama seperti Belanda, tetapi hingga kini belum terlaksana.
Selain polder, Amsterdam juga dibangun dengan ratusan kanal dan jembatan.
Karena banyaknya kanal, kota ini dijuluki sebagai “Venisia di Utara”, berlawanan dengan Venesia yang ada di Italia.
Sambil berjalan santai di tepi kanal, saya melihat kano-kano yang berlalu-lalang.
Arsitektur kanal dan jembatan begitu menawan dan mengesankan
Selain kanal, kota ini juga dikenal dengan sejumlah museum terkenal di dunia seperti Rijksmuseum dan museum Van Gogh, serta berbagai bangunan bersejarah.
Di dalamnya terdapat karya terkenal Rembrandt, “The Night Watch”, serta “The Starry Night” dari Van Gogh.
Ada pula Rumah Anne Frank, tempat bersejarah di mana Anne Frank dan keluarganya bersembunyi selama Perang Dunia II.
Selain dua pelukis legendaris itu, Belanda juga melahirkan filsuf besar, Baruch Spinosa.
Profil wanita Belanda memiliki ciri khas tersendiri
Seperti yang digambarkan dalam sastra klasik, wanita Belanda memiliki wajah yang tenang dan menawan.
Kecantikan mereka tidak mencolok, melainkan “jernih dan teguh”, dengan kulit cerah yang memantulkan cahaya musim dingin, mata biru atau abu-abu yang menunjukkan kejernihan dan ketegasan, serta rambut pirang atau keemasan yang seringkali diasosiasikan dengan “cahaya utara”.
Begitulah wanita Belanda, berbeda dengan wanita di Lille, Perancis.
Dengan semua sejarah dan perjalanan peradabannya, kota Amsterdam menjadi magnet yang menarik jutaan wisatawan untuk berkunjung.
Kota ini seolah tidak pernah tidur
Sebelum meninggalkan Amsterdam, izinkan saya menyampaikan puisi berikut (sumber istimewa):
“Seorang wanita berdiri di bawah langit kelabu Rotterdam, rambut pirangnya berguguran seperti sinar cahaya musim gugur.
Wajahnya tenang, tulus, tanpa kepura-puraan, seolah angin laut Utara mengukir ketegasan di setiap garisnya.
Ia berbicara pelan namun tegas, dengan tatapan jernih seperti kanal-kanal tua yang memantulkan cahaya di senja hari.
Ada kehangatan yang tidak gampang terlihat kehangatan yang perlu didekati perlahan, seperti mendekati kota Belanda di musim dingin: dingin di luar, namun kaya kehidupan di dalam rumah-rumahnya”.
Artikel ini dikirim oleh Save Dagun dari Amsterdam Belanda yang bersangkutan adalah seorang seorang Penulis dan Budayawan asal Manggarai NTT











Tinggalkan Balasan