LABUAN BAJO – Labuan Bajo yang terus dikembangkan sebagai destinasi pariwisata kelas dunia ternyata masih menghadapi tantangan dalam hal keselamatan laut di kawasan Taman Nasional Komodo.
Beragam pihak mulai dari komunitas hingga pemerintah daerah dan pengelola TN Komodo sepakat bahwa sistem pemantauan arus dan cuaca yang lebih komprehensif merupakan kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan.
“Komodo tidak hanya memerlukan kuota. Komodo memerlukan sistem keselamatan laut yang modern. Dan itu dimulai dengan keberanian untuk mengambil keputusan hari ini,” tegas Ketua DPC Gahawisri Labuan Bajo, Budi Widjaja, dalam keterangannya kepada Labuan Bajo Terkini, Senin (2/3), Siang.
Kondisi Perairan Kompleks, Radar Saat Ini Masih Terbatas
Budi menjelaskan bahwa kondisi perairan di kawasan TN Komodo sangat kompleks dengan adanya arus lintas Indonesia, gelombang tidal di selat sempit, gelombang bersilangan, dan arus pusaran yang kuat. Namun hingga saat ini, sistem pemantauan menggunakan High Frequency (HF) Radar hanya terbatas pada dua titik saja.
“Jika kita benar-benar serius tentang keselamatan, maka penambahan radar di titik-titik strategis seperti Padar Utara, Rinca Selatan, dan Komodo Selatan bukan hanya kebutuhan teknis, tetapi kebutuhan strategis yang mendesak,” ucapnya.
Ketua DPC Gahawisri cabang Labuan Bajo itu mengungkapkan bahwa dengan lima unit radar yang saling terhubung, akan mampu mengurangi titik buta arus, melakukan kalkulasi vektor arus dengan akurat, memungkinkan prediksi kondisi laut 1-3 jam ke depan, serta memberikan data presisi terkait arah arus saat terjadi insiden.
Sistem yang terintegrasi dengan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga akan membantu operator kapal wisata mengambil keputusan berdasarkan data ilmiah.
“Waktu kritis dalam kecelakaan laut sering ditentukan oleh satu faktor: pengetahuan tentang arah arus. Tanpa informasi tersebut, pencarian dan penyelamatan menjadi spekulatif. Dengan radar yang memadai, respons menjadi lebih terukur,” jelas Budi.
Dampak Ekonomi Besar Jika Tidak Ada Langkah Nyata
Dari sisi ekonomi, Budi menyampaikan bahwa satu insiden besar dapat menyebabkan dampak signifikan seperti pembatalan kunjungan besar-besaran, penurunan okupansi hotel, kenaikan premi asuransi, hingga sorotan negatif dari media internasional.
Jika kunjungan tahunan mencapai ratusan ribu dengan dampak ekonomi triliunan rupiah, penurunan hanya 10-15% akibat efek reputasi dapat berarti kerugian ratusan miliar rupiah dalam setahun.
“Untuk membangun pariwisata berkualitas, pengelolaan keselamatan harus ditingkatkan sesuai dengan standar internasional. Penambahan radar bukan sekadar proyek alat, tetapi simbol pergeseran paradigma: dari pendekatan administratif menuju pendekatan berbasis sains dan mitigasi risiko,” pungkasnya.
KSOP: Pemantauan Real-Time Jamin Akurasi Prakiraan
Kepala Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Stefanus Risdiyanto, menegaskan bahwa pemantauan cuaca dengan peralatan yang memadai sangat diperlukan untuk mendapatkan akurasi prakiraan yang mendekati kondisi aktual di lapangan.
“Pemantauan cuaca dengan peralatan memang diperlukan untuk akurasi prakiraan cuaca yang near real atau mendekati kenyataan aslinya di lapangan,” ujar Stefanus saat dikonfirmasi Labuan Bajo Terkini, Senin (2/3), Siang.
Ia menambahkan bahwa sistem pemantauan semacam itu akan memberikan kontribusi besar bagi keselamatan aktivitas pelayaran di kawasan tersebut. “Itu akan sangat membantu keselamatan pelayaran,” tegasnya.
Budi Widjaja juga menambahkan bahwa pihaknya tengah berkoordinasi dengan asosiasi kapal wisata dan hotel untuk mengumpulkan masukan.
“Kerjasama multi-stakeholder ini sangat penting agar investasi yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi semua pihak,” katanya.
TN Komodo Sudah Punya Kerjasama dengan BMKG
Sementara itu Kepala Balai Taman Nasional Komodo (TNK) Hendrikus Rani Siga menjelaskan bahwa pihaknya telah memiliki kerja sama dengan BMKG terkait penempatan alat pemantau di kawasan konservasi.
“Kalau bicara pemantauan arus laut yang memiliki data dan informasi sebenarnya dari BMKG. Kita sudah ada kerja sama dengan BMKG terkait penempatan alat deteksi tsunami atau pemantau arus (HF radar) di Gililawa laut dan deteksi gempa bumi (Seismograf) di Sebita,” ujar Hendrikus, Senin (2/3), Siang.
Ia menyampaikan bahwa untuk saat ini hanya dua alat tersebut yang ditempatkan oleh BMKG di kawasan TN Komodo. “Saat ini dan mungkin untuk sementara baru 2 alat tersebut yang ditempatkan BMKG di kawasan TN Komodo,” jelasnya.
Namun, ia mengutarakan harapan agar jumlah alat pemantau dapat ditambah ke depannya. “Mudah-mudahan akan ditambah lagi kedepannya,” pungkas Hendrikus dengan optimis.











Tinggalkan Balasan