LABUAN BAJO – Pengembangan Labuan Bajo sebagai destinasi wisata super prioritas memang sukses mencatatkan prestasi bagi sektor pariwisata Nusa Tenggara Timur (NTT).

Namun, di balik kemeriahan itu, manfaat ekonominya lebih banyak dinikmati investor luar daerah, sementara masyarakat lokal masih terjebak dalam kemiskinan dan kesenjangan yang luas.

Hal itu disampaikan Ketua Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTT, Oyan Kristian, dalam wawancara telepon yang dilakukan pada Minggu (1/3).

Menurutnya, kondisi ini menciptakan fenomena ekonomi “enklave” yang membuat perkembangan terpusat di area tertentu, sementara kabupaten sekitarnya tetap bergelut dengan angka kemiskinan yang tinggi.

Pekerja Lokal Dapat Posisi Gaji Rendah 

Salah satu permasalahan krusial adalah ketidaksesuaian kompetensi antara tenaga kerja lokal dengan kebutuhan industri.

Oyan menjelaskan bahwa industri perhotelan dan jasa pariwisata internasional membutuhkan standar yang tinggi, namun kualitas pendidikan dan pelatihan vokasi di beberapa wilayah NTT belum mampu memenuhinya.

Akibatnya, masyarakat lokal seringkali hanya mendapatkan posisi pekerjaan dengan gaji rendah.

Padahal, potensi sumber daya manusia di daerah tersebut cukup besar jika didukung dengan pembinaan yang tepat.

Kebutuhan Pangan Pariwisata Masih Impor 

Ironisnya, meskipun NTT memiliki potensi pertanian dan peternakan yang cukup besar, sebagian besar kebutuhan pangan untuk usaha pariwisata masih dipasok dari luar daerah.

Hal ini terjadi karena akses modal dan teknologi bagi pelaku usaha lokal masih terbatas.

“Pengalaman selama pandemi COVID-19 menjadi pelajaran berharga. Saat kunjungan wisata terhenti, sektor pertanian dan peternakan terbukti lebih tahan karena langsung berdampak pada kebutuhan dasar masyarakat,” ucap Oyan.

Diversifikasi Ekonomi, Tak Hanya Untuk Pariwisata 

Oyan menegaskan bahwa ketergantungan berlebihan pada pariwisata sebagai pilar ekonomi membawa risiko tinggi terhadap gejolak global.

Oleh karena itu, diperlukan diversifikasi dengan mengembangkan sektor produktif lainnya.

Pengolahan komoditas unggulan seperti kopi dan kakao menjadi salah satu solusi yang bisa memberikan nilai tambah lebih besar bagi pendapatan daerah serta menciptakan lapangan kerja berkelanjutan.

Selain itu, pemerataan pembangunan infrastruktur juga menjadi kunci penting.

“Jalan dan jembatan di desa-desa tidak hanya untuk mendukung akses wisata, tapi juga untuk memperlancar distribusi hasil pertanian ke pasar utama. Ini bisa mengurangi kesenjangan antara pusat pariwisata dan daerah penyangga,” jelasnya.

Transformasi Digital Untuk UMKM dan Gen Z

Selain itu, transformasi digital bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) harus diarahkan tidak hanya untuk pemasaran online, tetapi juga untuk meningkatkan efisiensi produksi dan manajemen usaha.

Generasi muda NTT juga perlu didorong untuk memanfaatkan inovasi teknologi pertanian guna mengoptimalkan potensi lahan kering yang luas di daerah tersebut.

Pada akhirnya, Oyan menegaskan bahwa pariwisata tetap memiliki peran strategis, namun harus diposisikan sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang lebih beragam dan inklusif.

“Pariwisata bukanlah satu-satunya jawaban. Kita perlu membangun ekonomi yang kuat dari dalam, sehingga manfaat pembangunan benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas hingga ke desa-desa,” tegasnya.