JERMAN – Daun-daun dan pucuk-pucuk pepohonan jatuh. Pohon-pohon berdiri kokoh dengan dahan-dahan yang telanjang. Musim dingin, bulan Desember. Ini adalah pemandangan pohon-pohon di sepanjang sungai Rhein, Jerman. Suasana dingin menyelimuti.

Pepohonan ini mengikuti hukum alam, beristirahat di musim dingin, hanya untuk hidup kembali saat musim semi tiba, berbuah di musim panas, dan menggugurkan daunnya di musim gugur. Sebuah siklus yang abadi.

Menjelang sore, saya menikmati suasana yang indah dan romantis di sungai Rhein, seperti yang ditulis  Save Dagun dalam keterangan Sabtu (13/12/2025).

Orang-orang berlalu-lalang di tepi sungai, kapal-kapal kecil berlayar di permukaannya. Suasana sangat ramai. Di depan kami berlabuh sebuah kapal panjang yang berfungsi sebagai restoran.

Kisah Klasik di Sungai Rhein

Sebelum berada di sini, banyak kisah cinta yang telah terukir di sepanjang sungai ini.

Dari zaman Romawi kuno, melalui Perang Dunia Kedua hingga zaman modern, sungai Rhein selalu menjadi sorotan dunia.

Sumber air sungai Rhein berasal dari puncak Pegunungan Alpen, Mont Blanc. Es yang mencair membentuk aliran yang melewati beberapa negara.

Sungai ini mengalir melalui Swiss, Liechtenstein, Prancis, Jerman hingga Belanda sebelum bermuara di Laut Utara.

Di Prancis dan Jerman, sungai ini disebut Rhin dan Rhein, sementara di Belanda dikenal sebagai Rijn. Ini adalah jalur sungai yang paling padat dan penting di Eropa.

Pemandangan alam di sekeliling sungai sangat menawan. Di tepi sungai terdapat kebun anggur dan bangunan kastil, menciptakan suasana seakan berada di negeri dongeng.

Setiap negara yang dilalui sungai ini membangun pelabuhan untuk kapal dan perahu, menjadikannya pusat aktivitas ekonomi. Air sungai ini terus mengalir menuju samudera.

Sesuai siklus alam, air sungai Rhein terus bergerak ke lautan. Saya percaya bahwa suatu saat, air sungai ini mungkin akan mencapai Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, tempat asal saya.

Terpanggil untuk Menulis Novel

Keindahan sungai Rhein menggugah banyak penulis untuk mengisahkan keindahannya.

Sejumlah novelis ternama telah mencurahkan imajinasi mereka ke dalam karya-karya tentang sungai ini.

Ada berbagai novel berkaitan dengan sungai ini, mencakup genre sejarah alternatif seperti “Fox on the Rhine,” fantasi/legenda seperti kisah Lorelei dalam “Sagen van den Rijn,” serta novel modern tentang lingkungan seperti “The Rhine” oleh Ben Coates dan trilogi “Das Erbe am Rhein” karya Schickele yang mengeksplorasi budaya Jerman dan Prancis.

Ritual Sakral Cinta Abadi

Namun, sungai Rhein juga menyimpan nuansa cinta yang sakral dan mistik. Tradisi “kunci cinta” di Sungai Rhein dapat ditemukan di Jembatan Hohenzollern (Hohenzollernbrücke) di Koln, Jerman.

Di jembatan ini, ribuan pasangan dari seluruh dunia memasang gembok sebagai simbol cinta mereka yang abadi.

Mereka menuliskan nama atau pesan di gembok, menguncinya pada pagar jembatan, dan membuang kuncinya ke dalam sungai Rhein di bawahnya. Ini melambangkan cinta yang tidak terpisahkan, sebuah janji untuk keabadian dan komitmen.

Saya dan istri juga melakukan ritual ini. Sangat mistis!  Suasana dingin dan angin yang menusuk menciptakan momen yang syahdu.

Sebagai penutup, sungai Rhein telah menyimpan jutaan kenangan cinta manusia dan akan terus mengalir dari zaman purba, tanpa pernah berhenti.

Setelah menikmati bir dan melewati hawa dingin, kami pamit kepada sungai Rhein dan melanjutkan perjalanan ke Brussel, Belgia.

 

 

Artikel ini dikirim oleh Save Dagun dari Cologne Jerman, yang bersangkutan adalah seorang seorang Penulis dan Budayawan asal Manggarai NTT