Oleh: Gabriel Mahal

LABUAN BAJO – Perayaan Natal 2025 dan menyambut Tahun Baru 1 Januari 2026 di Labuan Bajo diwarnai kesedihan oleh tragedi tenggelamnya Kapal KM Putri Sakinah di perairan kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) pada hari Jumat, 26 Desember 2025. Tragedi tenggelamnya kapal ini jadi sorotan dunia.

Sebagaimana diberitakan oleh banyak media, kapal Putri Sakinah ini membawa 11 orang yang terdiri dari 6 (enam) wisatawan Spanyol, 1 (satu) pemandu wisata, dan 4 (lima) kru kapal, termasuk kapten kapal.

Keenam wisatawan Spanyol itu adalah Fernando Martin Carreras bersama istrinya, Mar Martinez, dan anak-anaknya, Martin Garcia Mateo, Martines Ortuno Maria Lia, Martinez Ortuno Enriqejavier, dan Ortuno Andrea.

Dalam tragedi tenggelamnya KM Putri Sakinah itu, pelatih sepak bola Spanyol (Valencia CF B) Fernando Martin Carreras dan ketiga anaknya Martin Garcia Mateo, Martines Ortuno Maria Lia, Martinez Ortuno Enriqejavier, hilang/meninggal.

Sementara Mar, istrinya Fernando Martin Carreras, bersama anak bungsu mereka Ortuno Andrea, selamat bersama para pemandu dan kru kapal.

Pencarian masih tetap dilakukan. Salah satu korban meninggal yang diduga kuat Martinez Ortuno Maria Alia berhasil ditemukan pada tanggal 29 Desember 2025.

Kita berduka atas tragedi ini, dan mendoakan agar Mar dan anaknya Ortuno Andrea dikuatkan, dan semoga Fernando Martin Carreras bersama kedua anaknya, Martin Garcia Mateo dan Martinez Ortuno Enriqejavier, dapat segera ditemukan.

Tragedi tenggelamnya Kapal KM Putri Sakinah yang terjadi pada malam hari di selat Padar dalam kawasan TNK yang telah menelan korban nyawa manusia itu mestinya memberikan kita pelajaran penting dalam kebijakan pengelolaan wisata laut di kawasan TNK ini.

Sepanjang tahun 2024 hingga 2025 terjadi 15 (lima belas) kali insiden kecelakaan kapal di Labuan Bajo. Di tahun 2024 terjadi 8 (delapan) kali, termasuk tenggelamnya KM Budi Utama dan KM Monalisa.

Meski terbilang banyak kejadian tenggelamnya kapal di tahun 2024, tetapi tidak ada korban nyawa manusia (zero lost life).

Sementara di tahun 2025 terjadi 7 (tujuh) kali, termasuk tragedi KM Putri Sakinah pada tanggal 26 Desember 2025, dan KM Dewi Anjani, pada tanggal 29 Desember 2025. Yang paling fatal adalah tenggelamnya KM Putri Sakinah, karena menelan korban nyawa manusia.

Waktu terjadinya kecelakaan kapal ini lebih banyak pada siang hari. Penyebab dominan, arus kuat, kapal kandas di karang, kegagalan mesin saat crossing.

Kecelakaan yang terjadi di siang hari jauh lebih baik daripada terjadi pada malam hari, karena:

Pertama, visibilitas navigasi pada siang hari masih sangat baik (100%).

Nakhoda/kapten kapal masih bisa melihat arah arus, pusaran air (whirlpool), dan karang.

Kedua, respon evakuasi dapat cepat dilakukan. Salah satunya adalah kapal wisata lain di sekitar lokasi kecelakaan bisa segera memberikan informasi dan memberikan bantuan sesuai prinsip “persaudaraan di laut” (brotherhood of the sea).

Sehingga, tingkat korban jiwa rendah, bahkan nihil (zero lost life), hanya luka-luka. Mayoritas selamat.

Berbeda sama sekali ketika peristiwa tenggelamnya kapal itu terjadi malam hari seperti yang dialami KM Putri Sakinah.

Sekalipun jarang terjadi, tetapi tingkat fatalitasnya jauh lebih tinggi.

Ada berbagai faktor penyebab. Perubahan cuaca buruk yang mendadak, mati mesin tanpa visibilitas, dan terlambat mendeteksi kebocoran kapal.

Lalu, sangat rendahnya visibilitas navigasi (< 10%) yang hanya mengandalkan radar, jika ada, dan lampu sorot yang jangkauannya terbatas.

Respon evakuasi pun lambat. Bahkan dari kapal-kapal lain di sekitar tempat kejadian yang biasanya sudah lego jangkar/beristirahat/tidur. Para penumpang terjebak dalam kabin saat tidur (sleeping factor).

Tragedi tenggelamnya KM Putri Sakinah di Selat Padar menunjukkan dan membuktikan bahwa pelayaran malam itu mengandung risiko korban nyawa manusia yang sangat tinggi.

Dalam tragedi ini kita melihat adanya faktor tantangan alam yang tak terlihat (night hazard).

Apalagi arus laut Selat Padar itu bisa berubah arah secara ekstrim tanpa terlihat di permukaan pada malam hari.

Terjadinya gelombang “Kala-Kala” (Swell), gelombang yang datang tiba-tiba dan sulit diantisipasi oleh nahkoda dalam kondisi gelap malam.

Ditambah lagi risiko besar menabrak karang dangkal karena tidak adanya pandangan visual di malam hari.

Ada juga faktor manusia dan teknis, seperti kru kapal yang sudah kelelahan di waktu berlayar malam, dan sulitnya mendeteksi kerusakan mesin, karena kebocoran atau mati mesin pada malam hari seringkali baru disadari saat kondisi sudah kritis, misalnya, kapal sudah miring.

Faktor lain pelayaran di malam hari korban jiwa adalah faktor tidur (sleeping factor), yakni saat terjadinya peristiwa, penumpang sudah tidur dalam kabin, sehingga tidak punya kesempatan untuk menyelamatkan diri atau diselamatkan.

Disamping itu, risiko pelayaran malam hari ketika terjadi kecelakaan kapal/tenggelam, adalah kendala evakuasi dan SAR. Waktu emas (golden time) untuk pencarian dan penyelamatan di malam hari terhambat oleh gelapnya malam dan suhu air yang dingin (hipotermia).

Dan operasi SAR resmi menurut Protokol Keselamatan seringkali baru dapat dilakukan secara maksimal pada saat matahari terbit, sementara “golden time” untuk pencarian dan penyelamatan sudah lewat.

Keselamatan manusia adalah hukum tertinggi. Kebijakan apapun yang dibuat Pemerintah, termasuk kebijakan dalam pengelolaan pariwisata di TNK, khususnya dalam hal pelayaran kapal-kapal pesiar ke kawasan TNK itu, harus taat dan tunduk pada hukum tertinggi itu, dan memastikan terlaksananya hukum tertinggi tersebut.

Tragedi tenggelamnya KM Putri Sakinah yang menelan korban nyawa manusia telah membuktikan bahwa pelayaran malam di kawasan TNK mengandung risiko besar bagi keselamatan manusia.

Oleh karena itu Pemerintah harus menghentikan pelayaran malam hari dalam kawasan TNK.

Disamping itu, Pemerintah harus juga memastikan setiap kapal menyediakan GPS Tracking anti air, bisa dalam bentuk gelang, untuk setiap penumpang/wisatawan yang dipakai selama pelayaran.

Sehingga ketika terjadi peristiwa tenggelamnya kapal, setiap penumpang/wisatawan mudah dilacak keberadaannya dan mudah ditemukan. Sekali lagi, STOP PELAYARAN MALAM DI TAMAN NASIONAL KOMODO.