RUTENG – Kampung Adat Todo, salah satu ikon budaya Kabupaten Manggarai yang dulunya menjadi istana raja, mencatatkan peningkatan kunjungan wisatawan sepanjang tahun 2025. Peningkatan ini didominasi oleh wisatawan lokal yang semakin antusias untuk mengenal sejarah dan tradisi leluhur mereka sendiri.
Data Naik Signifikan, Warga Lokal Ingin Lihat Langsung Sejarah Sendiri
Sandri, pemandu dari Pokdarwis Kampung Adat Todo, mengungkapkan bahwa lonjakan kunjungan terjadi hampir setiap bulan, meskipun sulit diprediksi secara pasti.
“Data kunjungan wisatawan memang mengalami peningkatan yang cukup signifikan, terutama dari warga lokal yang ingin melihat langsung bagaimana dulu pusat pemerintahan raja Manggarai beroperasi,” kata Sandri kepada wartawan, Kamis (1/1/2026).

Menurutnya, kawasan yang memiliki satu rumah adat utama dan delapan rumah adat kecil ini menyimpan nilai sejarah tak ternilai.
“Rumah-rumah ini diwariskan turun-temurun setiap keluarga memiliki bagiannya sendiri dengan fungsi yang sudah ditentukan sejak dulu,” jelasnya.
Salah satu keunikan yang menjadi daya tarik adalah cara merawat atap rumah adat dengan cara diasapi karena dapur berada di dalam rumah.
“Semakin hitam atapnya, semakin kuat dan awet bangunannya. Ini bukan sekadar kebiasaan, tapi ilmu tradisional yang terbukti efektif,” tambah Sandri dengan bangga.
Kita Harus Jadikan Todo Tempat Belajar Budaya Bagi Anak Muda
Doni Aristo (25) yang baru saja mengunjungi kampung adat Todo bersama rekannya menyampaikan alasan mereka datang ke sana.
“Kami datang bukan hanya berlibur, tapi belajar bagaimana leluhur kita menjalankan pemerintahan dan menjaga tradisi,” ucap Doni dengan bangga.
Ia menambahkan, prosesi tesi atau permohonan izin kepada leluhur yang wajib dilakukan oleh setiap pengunjung membuat mereka merasa lebih dekat dengan akar budaya.
“Saat kita masuk rumah gendang dan memohon izin, rasanya seperti ada hubungan langsung dengan nenek moyang kita,” katanya.
Tradisi Tetap Hidup Lewat Upacara yang Tetap Dilaksanakan
Maria Ta’u, salah satu keturunan keluarga Kerajaan Manggarai mengungkapkan bahwa kampung adat ini bukan hanya tempat wisata, tapi juga pusat pelaksanaan seluruh upacara adat Manggarai.
“Kita masih melaksanakan upacara kelahiran, pernikahan, kematian, dan syukuran seperti dulu. Bahkan beberapa keluarga masih menyimpan benda adat penting, seperti gendang loke ngerang dan pedang tradisional yang sudah berusia ratusan tahun,” jelas Maria.
Menurutnya, aturan yang harus dipatuhi pengunjung seperti mengenakan pakaian adat dan tidak boleh membukanya selama berada di kawasan adalah bentuk rasa hormat kepada tradisi.
“Ini bukan larangan yang kaku, tapi cara kita menjaga kehormatan dan kesakralan kampung adat,” ucapnya.
Akses Mudah, Tiket Terjangkau untuk Mendukung Pelestarian
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai, Agus Suroso, menyambut baik peningkatan kunjungan wisatawan lokal.
“Kita sangat senang karena masyarakat mulai menyadari nilai budaya yang mereka miliki. Akses jalan menuju Kampung Adat Todo sudah cukup baik dari Labuan Bajo hanya 2-3 jam dan dari Ruteng sekitar satu jam lebih,” ujar Agus melalui pesan WhatsApp.
Ia menambahkan bahwa tiket masuk sebesar Rp 80.000 per orang untuk wisatawan lokal sudah termasuk pakaian adat lengkap, dan dana yang terkumpul digunakan untuk pelestarian rumah adat dan pengembangan fasilitas.
“Kita ingin memastikan kampung adat ini tetap lestari dan bisa dinikmati oleh generasi mendatang,” katanya.
Puncak kunjungan biasanya terjadi pada bulan Juni hingga September, namun sepanjang tahun jumlah pengunjung tetap stabil dengan fluktuasi yang tidak terlalu besar.











Tinggalkan Balasan