LABUAN BAJO TERKINI – Bukan hanya lekuk alamnya yang memukau, Kabupaten Manggarai di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, adalah sebuah etalase kaya akan warisan budaya yang mengakar kuat. Saat langkah kaki menjejak desa-desanya, mata akan disuguhi rumah-rumah adat, atau rumah gendang, yang berdiri gagah sebagai penanda zaman.
Beberapa perkampungan bahkan telah menjelma situs budaya lestari, mengundang siapa pun untuk menelisik lebih dalam. Di antaranya, Kampung Adat Todo, Ruteng Pu’u, dan Wae Rebo menawarkan pengalaman yang tak terlupakan.
1. Compang Ruteng: Bisikan Purba di Ambang Kota

Compang Ruteng, atau yang lebih dikenal sebagai Ruteng Pu’u, adalah salah satu ‘rahim’ tertua peradaban Manggarai. Bersemayam di Kelurahan Golo Dukal, Kecamatan Langke Rembong, kampung adat ini hanya sepelemparan batu—sekitar 4 kilometer—dari hiruk pikuk Kota Ruteng. Sebuah destinasi budaya yang sarat makna, di mana arsitektur rumah adat berbentuk kerucut masih kokoh menjaga keasliannya.
Sebagai situs budaya terdekat dari pusat kota, Ruteng Pu’u menjadi representasi ideal arsitektur Manggarai. Dua Rumah Gendang dan Rumah Tambor gagah berdiri di jantung kampung. Di pelataran tengahnya, mezbah batu yang dalam bahasa lokal disebut compang, menjadi saksi bisu ritual dan kehidupan. Kebersihan kampung begitu terjaga, dengan batu-batu tersusun rapi melingkari halaman. Pesonanya kian paripurna kala kabut pagi atau senja turun menyelimuti, menciptakan aura magis yang sulit dilukiskan kata.
2. Wae Rebo: Negeri di Atas Awan yang Mendunia

Lain cerita dengan Wae Rebo, kampung yang acap kali dijuluki ‘negeri di atas awan’. Bertengger di ketinggian 1.100 meter di atas permukaan laut, Wae Rebo menawarkan panorama yang membuat napas tertahan. Rumah adatnya yang unik, Mbaru Niang, menjulang dengan atap kerucutnya yang khas, setiap detailnya mengandung filosofi mendalam tentang kehidupan masyarakat Manggarai.
Udara dingin dan selimut kabut yang seringkali memeluk kampung ini menambah kesan mistis. Tujuh Mbaru Niang utama berdiri anggun melingkari compang, altar batu yang menjadi pusat aktivitas masyarakat untuk meletakkan sesaji kepada para leluhur. Keistimewaan Wae Rebo tak hanya diakui secara lokal. Desa tradisional ini telah menerima Top Award of Excellence dari UNESCO dalam Penghargaan Warisan Asia Pasifik 2012. Bahkan, pada tahun 2024 ini, Wae Rebo dinobatkan sebagai salah satu desa tercantik di dunia, sebuah pengakuan yang kian mengukuhkan pesonanya.
3. Compang Todo: Jejak Kerajaan di Tanah Manggarai

Jangan lupakan pula Kampung Adat Compang Todo, sebuah destinasi yang tak kalah memikat dari Wae Rebo. Berlokasi di Desa Todo, Kecamatan Satar Mese Utara, perkampungan ini adalah episentrum sejarah peradaban Manggarai Raya. Tutur lisan masyarakat setempat mengisahkannya sebagai pusat kerajaan di masa lampau.
Setibanya di Todo, pengunjung akan disambut oleh lima meriam kuno, diperkirakan peninggalan era kolonial Belanda, yang berjaga di pintu halaman. Dari sana, jalan batu yang tertata rapi menuntun langkah, mengelilingi halaman hingga ke rumah utama, niang mbowang. Menurut catatan Kebudayaan Kemdikbud, di bagian atas compang Todo, bersemayam delapan makam tokoh adat, keturunan langsung raja. Sebuah menhir bermotif kedok muka dan tujuh menhir lainnya menambah aura sakral.
Di sini, keindahan arsitektur Niang Todo—rumah adat panggung berbentuk bundar dengan atap kerucut dari ijuk dan alang-alang—membius mata. Bangunan ini, yang konon merupakan istana raja Todo terdahulu, memiliki rangka atap bambu yang diikat ijuk, membentuk pola serupa jaring laba-laba. Satu rumah adat induk berdiri megah, ditemani empat bangunan serupa berukuran lebih kecil, menjadi saksi bisu kejayaan masa silam.
Ketiga kampung adat ini hanyalah secuil dari kekayaan Manggarai yang menunggu untuk dijelajahi, menawarkan pengalaman lebih dari sekadar pemandangan indah—sebuah perjalanan menembus waktu.











Tinggalkan Balasan