RUTENGKampung Adat Todo, bekas pusat pemerintahan kerajaan Manggarai yang terletak di Kecamatan Satar Mese Barat, Kabupaten Manggarai, NTT, mencatatkan pertumbuhan kunjungan wisatawan hingga 40% sepanjang tahun 2025.

Peningkatan yang luar biasa ini didorong oleh minat yang semakin besar dari masyarakat lokal untuk menjelajahi dan melestarikan warisan budaya leluhur.

Warga Lokal Jadi Pelopor Pelestarian Ini Bukti Budaya Kita Masih Hidup

Sandri, Koordinator Pokdarwis Kampung Adat Todo, mengungkapkan bahwa lonjakan kunjungan bukan hanya angka semata, tapi cerminan kesadaran masyarakat akan pentingnya budaya.

“Data yang kami kumpulkan menunjukkan sekitar 75% pengunjung adalah warga Manggarai dan sekitarnya. Mereka tidak hanya datang untuk berfoto, tapi benar-benar ingin memahami sejarah bagaimana kerajaan Manggarai berjalan, fungsi masing-masing rumah adat, dan makna di balik setiap tradisi,” ujar Sandri kepada wartawan di kampung adat Todo, Jumat (2/1/2025).

Kampung Adat Todo: Dari Istana Raja Menjadi Magnet Wisata Lokal Jaga Jiwa Budaya Manggarai
Kampung Adat Todo: Dari Istana Raja Menjadi Magnet Wisata Lokal Jaga Jiwa Budaya Manggarai

Ia menjelaskan bahwa keunikan rumah adat yang dirawat dengan cara diasapi karena dapur berada di dalam ruangan menjadi daya tarik tersendiri.

“Semakin hitam warna atapnya, semakin kuat struktur bangunannya. Ini bukan mitos, tapi ilmu konstruksi tradisional yang telah teruji selama berabad-abad,” tambahnya dengan bangga.

Kita Harus Jadikan Kampung Adat sebagai Laboratorium Budaya untuk Generasi Muda

Prof. Dr. I Wayan Ardika, ahli antropologi dari Universitas Udayana yang telah meneliti budaya Manggarai selama lebih dari dua dekade, menilai bahwa fenomena peningkatan kunjungan lokal ini sangat signifikan.

“Kampung adat bukan hanya sebagai objek wisata, tapi harus berperan sebagai laboratorium hidup di mana generasi muda bisa belajar tentang tata pemerintahan tradisional, sistem sosial, dan nilai-nilai budaya yang mengikat masyarakat,” papar Prof. Ardika yang baru saja menyelesaikan penelitian terbarunya di kawasan kampung adat Todo.

Menurutnya, keberadaan benda-benda peninggalan seperti gendang loke ngerang dan senjata tradisional yang disimpan oleh masing-masing keluarga menjadi bukti nyata bahwa budaya Manggarai masih hidup dan berkembang.

“Ketika generasi muda datang dan melihat langsung bagaimana tradisi dijalankan, bagaimana rumah adat dirawat, dan mendengar cerita dari keturunan keluarga kerajaan, mereka tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tapi juga rasa bangga akan identitas diri mereka,” jelasnya.

Prof. Ardika menambahkan bahwa model pelestarian yang dilakukan oleh Kampung Adat Todo dapat menjadi contoh bagi kawasan budaya lain di Indonesia.

“Ini adalah bentuk kolaborasi yang baik antara masyarakat lokal, pemerintah, dan akademisi di mana pelestarian budaya tidak hanya menjadi tanggung jawab sebagian orang, tapi menjadi gerakan bersama yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kelangsungan nilai-nilai budaya,” ucapnya.

Kita Ingin Budaya Ini Tetap Hidup untuk Anak Cucu Kita

Maria Ta’u, salah satu keturunan keluarga  kerajaan Manggarai yang tinggal di Kampung Adat Todo, menyampaikan bahwa masyarakat lokal sangat mendukung peningkatan kunjungan wisatawan dari daerah sendiri.

“Kita tidak hanya membuka pintu untuk diterangi uang, tapi karena kita ingin anak cucu kita nantinya masih bisa melihat bagaimana nenek moyang mereka hidup dan menjalankan pemerintahan. Ketika wisatawan lokal datang, mereka belajar dan kemudian akan menjadi duta yang baik untuk menyebarkan cerita tentang Kampung Adat Todo,” katanya sambil menunjukkan salah satu rumah adat yang telah diwariskan kepada keluarganya selama lima generasi.

Maria juga menjelaskan bahwa seluruh upacara adat mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga acara syukuran masih dilaksanakan sesuai dengan tradisi yang telah ada selama berabad-abad.

“Peninggalan adat yang kami simpan bukan hanya barang antik, tapi memiliki makna spiritual dan sejarah yang dalam. Setiap benda memiliki cerita sendiri yang menjadi bagian dari identitas kita sebagai orang Manggarai,” tambahnya.

Aturan Adat sebagai Bentuk Rasa Hormat

Sandri menegaskan bahwa setiap pengunjung, baik lokal maupun mancanegara, diwajibkan mengikuti aturan adat yang berlaku, seperti mengenakan kain todo dan selendang adat, serta melakukan prosesi tesi atau permohonan izin kepada leluhur di rumah gendang.

“Aturan ini bukan untuk membatasi, tapi sebagai bentuk rasa hormat kepada leluhur yang telah menjaga dan mengembangkan kampung adat ini. Banyak wisatawan lokal yang merasa bangga ketika mengenakan pakaian adat dan menjalani prosesi tersebut, karena mereka merasa lebih dekat dengan akar budaya mereka,” jelasnya.

Ia juga menyampaikan bahwa tiket masuk sebesar Rp 80.000 per orang untuk wisatawan lokal sudah termasuk penggunaan pakaian adat lengkap, dan dana yang terkumpul digunakan untuk perawatan rumah adat dan pengembangan fasilitas pendukung yang tidak mengganggu keaslian kawasan budaya.

“Puncak kunjungan biasanya terjadi pada bulan Juni hingga September, namun sepanjang tahun kita selalu siap menerima kunjungan dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya yang ada. Semoga dengan semakin banyaknya wisatawan lokal yang datang, Kampung Adat Todo akan terus menjadi jantung budaya Manggarai yang hidup dan berkembang,” pungkas Sandri.