LABUAN BAJO TERKINI -Hawa panas Labuan Bajo tidak menyurutkan semangat Anastasia Widiastuty untuk melatih orang menjahit.
Pada suatu siang pekan lalu, tangannya berhenti sejenak dari mesin tempat dimana benang dan jarum bertemu untuk menjahit kain. Ia sesekali menyeka keringat bercucuran dari wajahnya.
Wanita yang akrab disapa Astuty itu sebagai konsultan Kriya di Pusat Pelatihan Usaha Terpadu (PLUT) Labuan Bajo.
Wanita kelahiran 1986 itu menceritakan mulai tertarik pada dunia menjahit sejak dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Astuty memang punya keahlian dalam menjahit. Dan keahlian itu turun-temurun dari ibunya yang juga ahli dalam menjahit.
Ia mengaku tak tertarik pada pakaian pria karena merasa lebih gampang. Sejak menggeluti perkerjaan menjahit, Astuty bahkan tak pernah menjahit pakaian pria.
Keahliannya dalam menjahit sejak 2004, hingga pada tahun 2005, dirinya mendapat kesempatan untuk mengikuti kursus menjahit.
“Saya tahun 2005 kursus, 2006 saya sudah mulai menjahit sampai sekarang,” kata Astuty, Selasa, (25/3) di PLUT Labuan Bajo.
Astuty mengungkapkan ketertarikannya mengkuti kursus itu karena dirinya sering membantu ibunya menjahit. Dalam hati kecil Astuty selalu bergumam, “saya harus ikut kursus menjahit”.
“Saya punya mama penjahit, saya sering bantu, jadi mulai dari situ saya ikut kursus,” kenang Astuty.
Hingga pada tahun 2018, Astuty kembali dipilih lagi oleh Balai Latihan Kerja (BLK) milik Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat untuk ikut pelatihan di Semarang, Jawa Tengah.
Pelatihan itu baginya untuk memperdalam lagi keahlian menjahit, hingga ia tak sadar keahlian itu membawanya menjadi seorang konsultan penjahit di PLUT Labuan Bajo.
PLUT Labuan Bajo berdiri pada April 2024 lalu. PLUT ini memiliki 4 orang konsultan. Diantaranya, digital, agrobisnis, kulineri dan kriya.
“Saya sendiri bertanggungjawab di konsultan kriya,” katanya.
Dia mengatakan, di PLUT Labuan Bajo sering mengadakan kegiatan pelatihan untuk turunan-turunan tenun.
“Jadi, kain-kain itu bukan hanya jadi sarbung, tapi kami buat supaya potongan-potongan kain bisa kami buat ada harga atau ada nilainya,” ujarnya.
“Jadi kami lebih kepada kreativitas saja. Supaya barang-barang ini mentionnya tidak hanya jadi sarung, tidak hanya jadi taplak meja tapi bisa dijadikan tas, bisa dijadikan gantungan kunci,” lanjutnya.
Tak jarang Astuty mengumpulkan sisa-sisa potongan kain dari penjahit. “Itu dari perca. Jadi itulah yang kami olah,” ungkapnya.
PLUT sendiri, kata dia, belum buat produk, tapi hasil produksi pelaku UMKM yang ia latih, biasanya mereka titip untuk dijual.
“Kalau ada event, mereka titip. Misalnya kemarin ada festival Golo Koe. Kan tidak semua teman-teman UMKM bisa ikut. Jadi mereka titip ke PLUT. Kayak topi, pouch, itu yang biasa mereka titip. Karena itu yang cepat laku karena banyak peminat,” katanya dengan semangat.
Selama dua hari, dari Senin 24 hingga Selasa 25 Maret 2024 lalu, Astuty memberikan pelatihan kepada belasan pelaku UMKM dari Desa Ngancar, Kecamatan Lembor, Kabupaten Manggarai Barat.
“Yang dilatih hari ini, itu adalah hobobek. Hobobek itu tas serbaguna. Bisa jadi tas untuk berbelanja, tas barang apa saja. Dan tadi itu ada pouch. Saya itu melatih mereka pakai ritsleting,” papar wanita yang kini berusia 39 tahun itu.
Selama memberi pelatihan, Astuty kerap mengalami tantangan. Tantangan paling besar baginya adalah banyaknya pelaku UMKM yang tidak bisa mengoperasikan mesin jahit listrik.
“Jadi yang pertama yang kami lakukan adalah pengenalan mesin dulu. Dan banyak mama-mama yang tidak bisa jahit. Kayak sekarang, kemarin Yayasan Astra mengakui bahwa yang bisa jahit hanya lima. Tapi saya memotivasi supaya semua pegang mesin. Jadi, saya kasih tugas. Kalau yang satunya sudah dapat, oke kita potong lagi, yang mudah yang mana, yang penting semua bisa injak mesin,” jelasnya.
Dengan panduan itu, pelaku UMKM yang dilatihnya menunjukan perkembangan yang bagus dalam menjahit.
“Yang tadinya takut dengan mesin, ada mama yang takut strom dan lain-lain, takut dengan mesin listrik. Hari pertamanya takut, tapi setelah dicoba, maunya nambah sampai besok. Jadi semangatnya mereka yang kita pupuk terus,” tandasnya.
Menurutnya, kegiatan yang didapat hari itu bukan hanya mengasah keahlian dari pelaku UMKM, tapi menciptakan generasi penjahit profesional untuk hari-hari selanjutnya.
Baginya, menjahit lebih dari sekadar kerajinan, ini adalah peluang bisnis mendapatkan cuan. Menguasai keterampilan adalah kunci dasar mencapai kesuksesan.
Produk yang dijual dari hasil pelatihan itu saja sudah bisa mendatangkan rupaih, dibandrol dengan harga Rp196 ribu. Produk itu adalah tas yang dikombinasikan dengan goni.
“Ada tas yang kami kombinasikan dengan kulit, tapi kecil tapi agak kecil, itu harganya Rp. 176 ribu. HPP-nya tergantung dengan barang yang kita pakai. Menentukan nilai tingginya harga itu tergantung barang yang dipakai,” pungkasnya.
Asah Kemampuan Lewat Astra
Media ini berkesempatan mewawancarai Yunita N. Hasan, kordinator dari Yayasan Astra.
Yayasan Astra yang mendampingi proses pelatihan belasan pelaku UMKM dari Desa Ngancar selama dua hari di PLUT Labuan Bajo, yang salah satu konsultannya adalah Astuty.
Menurut Yunita, pelatihan itu cukup berdampak. Ibu-ibu yang sebelumnya takut dengan mesin jahit listrik, akhirnya ketagihan, meminta tambahan waktu pelatihan.
Yayasan Astra yang telah mendampingi beberapa kelompok UMKM di Manggarai Barat telah hadir 3 tahun lalu.
Yayasan ini konsentrasi pembinaan di beberapa sektor, yakni pertanian, kuliner dan pelatihan kerajinan tangan.
“Ada satu kelompok di desa Ngancar Lembor anggotanya 15 orang. Tapi kita tetap optimis bahwa semakin banyak masyarakat yang mau bergabung. Makin banyak ibu-ibu di desa Ngancar yang mana mereka bisa melatih kerajinan mereka, kalau tenun memang sudah jadi keahlian dari dulu tinggal bagaimana mereka bisa menambah keterampilan mereka dalam hal menjahit,” ujar Yunita N. Hasan, Selasa siang.
Yunita mengurai, dari pelatihan pelatihan yang didampingi Astra, pelaku UMKM bisa mengembangkan produk turunan atau produk inovasi dari kain-kain tenun.
“Targetnya, pelaku UMKM kita bisa naik kelas. Naik kelas dalam artian mereka punya produk yang punya nilai jual dan punya produk inovasi yang bisa berdaya saing,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa Yayasan Astra memiliki 4 program, ada program pelatihan, pendampingan, pemasaran dan pembiayaan.
“Nah, fasilitasi pemasaran itu, kita biasanya jual digaleri. Ada satu galeri punya UMKM juga, yang mana produk produk UMKM seperti songke, kemudian produk produk yang dibuat jadi tas, itu nanti akan dipajang digaleri dan dijual. Nah, kalau ada pembeli langsung, bisanya kita langsung kirim, tapi kalau belum, kita bisa pajang di galeri untuk dijual,” jelasnya.
Yunita berujar, Yayasan Astra punya 8 desa binaan, salah satunya desa Ngancar untuk tenun, kuliner di Nanga Lili, kerajinan anyaman di Desa Golo Ndaring, Werek di desa Poco Golo Kempo, Vanili di Pacar dan Mente di Repi.
“Sudah 3 tahun 4 bulan Yayasan Astra mendampingi para pelaku UMKM. Kami berharap, makin banyak UMKM yang bisa kami bina karena UMKM masih membutuhkan pendampingan, pembinaan dan bantuan dari beberapa pihak, entah itu pemerintah maupun swasta. Kita berharapnya UMKM kita naik kelas dan mandiri,” jelasnya.
Yunita berharap setelah mendapat pendampingan dan pembinaan dari Yayasan Astra pelaku UMKM bisa mandiri.
“Setelah mendapat pendampingan dari kita, kedepanya mereka bisa mandiri, berdiri sendiri dalam bentuk komunitas,” pungkasnya.
Mia, salah satu pelaku UMKM mengatakan pelatihan yang diikutinya selama dua hari itu sangat bermanfaat.
Selama ia menjadi penenun Songke, ada begitu banyak kain-kain sisa yang kemudian dibuang. Namun, setelah mengikuti kegiatan pelatihan tersebut, dirinya baru menyadari kalau yang dibuangnya selama ini punya nilai jual kalau diolah kembali.
“Kegiatannya sangat berkesan dan sangat bermanfaat,” ungkapnya.
Ia berharap, dengan mengikuti pelatihan bisa menambah wawasan dan meningkatkan keterampilannya dalam usaha kerajinan.
Catatan : Artikel ini digarap bersama Ven Darung











Tinggalkan Balasan