LABUAN BAJO TERKINI – Sebuah video yang merekam sesi tanya jawab antara Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Republik Indonesia, Natalius Pigai, dengan dua mahasiswa Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng tengah riuh jagat maya. Mereka adalah DDKS dan PCM, finalis Putra Putri Budaya Indonesia (PPBI) 2025 yang mewakili Provinsi NTT. Ironisnya, dalam video yang pertama kali diunggah akun TikTok @Hery Salus dan Facebook @Aris Gasman II itu, keduanya diduga gagap menjelaskan makna fundamental budaya Manggarai, tanah asal mereka.

Kejadian bermula ketika Natalius Pigai, dalam sebuah kesempatan, melontarkan pertanyaan sederhana namun mendasar: “Apa yang kalian pahami tentang ‘Gendang One, Lingko Peang dan Tu’a Teno’?” Pertanyaan ini, bagi masyarakat Manggarai, adalah inti sari kearifan lokal.

DDKS, sang Putra Budaya, mendapat giliran pertama. Ia diminta mengurai makna “Tu’a Teno”, “Gendang One”, dan “Lingko Peang”. Jawabannya, “Tu’a itu seorang tanah dan gendang itu istilahnya rumah adat atau akar dari budaya Manggarai serta Lingko Peang itu Kebun yang diluar rumah.” Sontak, gelak tawa membahana dari audiens yang hadir, seolah menyiratkan jawaban tersebut meleset jauh dari esensi sebenarnya.

Giliran PCM, sang Putri Budaya. Ketika Pigai mengulang pertanyaan serupa, ia memulai, “Tu’a tanah itu…” Belum tuntas kalimatnya, terdengar teriakan dari kerumunan, “Tu’a Teno!” Koreksi spontan itu seakan memberi sinyal kekeliruan penyebutan. PCM melanjutkan, “Tu’a Teno itu Tu’a yang mengurus tanah dan Gendang One Lingko Peang itu merupakan Rumah Gendangnya orang Manggarai.”

Tak ayal, Natalius Pigai, yang notabene bukan berasal dari Manggarai, merasa perlu memberikan penjelasan mengenai makna sesungguhnya dari ketiga istilah tersebut kepada kedua finalis. Meski begitu, Pigai tetap memberikan pesan suportif agar keduanya dapat mengharumkan nama Manggarai di ajang nasional yang akan digelar di Yogyakarta.

Video tersebut langsung menuai badai komentar dari warganet, khususnya mereka yang berakar budaya Manggarai. Akun TikTok @Sandi, misalnya, menulis pedas, “Kalau Belum paham jangan asal Ngarang jawabnya jujur saja kalau tidak tahu dan perlu belajar lagi tentang Budaya Manggarai serta belajar juga istilahnya itu.”

Senada, akun TikTok @AltusDaru86 turut memberikan koreksi dan edukasi: “Gendang itu adalah Rumah adat Manggarai, lingko itu adalah Tanah garapan dari gendang itu, nahhh gendang one lingko peang itu adalah satu kesatuan, dimana ada Rumah Gendang (rumah adat, simbol persatuan dari masyarakat 1 kampung), di situ juga pasti ada lingkonya tanah garapan dari gendang tersebut.” Komentarnya ditutup dengan sentilan, “Waduhhh,,mulok haruss belajar lagi.”

Insiden ini menjadi sorotan tajam mengingat DDKS dan PCM telah dinobatkan sebagai pemenang seleksi tingkat Provinsi NTT pada 6-8 Maret 2025 lalu. Mereka mengemban amanah besar sebagai duta budaya.

Sebelumnya, pada 12 Mei 2025, Aldi Pratama Lada, Regional Director Putra Putri Budaya NTT, kepada awak media menjelaskan kriteria penilaian dalam ajang PPBI 2025. “Finalis harus mampu menguasai beberapa Budaya dari Provinsi asal, kemudian minimal 2 atau 3 budaya dari Provinsi lain,” ujarnya. Aldi juga menekankan pentingnya public speaking, personal branding, dan attitude. “Sangat percuma kalau memiliki public speaking dan personal branding yang baik, tapi attitude-nya jelek,” tegas Aldi.

Kini, dengan viralnya video tersebut, penguasaan budaya asal oleh kedua finalis menjadi pertanyaan besar. Bekal pemahaman budaya lokal yang seharusnya menjadi fondasi utama, justru tampak rapuh di hadapan pertanyaan sederhana dari seorang tokoh nasional. Publik pun menanti, bagaimana DDKS dan PCM akan mempersiapkan diri lebih matang sebelum bertarung di panggung nasional, membawa nama besar NTT dan kekayaan budaya Manggarai.