LABUAN BAJO – Kondisi darurat yang mengancam nyawa seorang bayi berusia tujuh bulan di Pulau Komodo memaksa keluarga dan petugas kesehatan berjuang melawan waktu, karena tidak ada speedboat ambulans untuk mengantarkan pasien kritis menuju rumah sakit rujukan di Labuan Bajo.
Bayi bernama Nur Kalifah, anak dari pasangan Kartika dan Ardi, menderita pneumonia berat disertai kesulitan bernapas serta gastroenteritis akut.
Kondisi tersebut mengharuskan penanganan lebih lanjut di fasilitas kesehatan yang lebih memadai sehingga dirujuk ke Instalasi Gawat Darurat di RSUD Marombok pada Sabtu (21/2).
Namun, evakuasi tidak bisa dilakukan segera oleh Puskesmas Pulau Komodo karena keterbatasan armada transportasi laut.
Pihak kesehatan kemudian mencari bantuan dari luar, yakni menghubungi Padar Heritage Conservation (PHC), lembaga non-profit yang bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Komodo.
Tim PHC langsung menyiapkan kapal cepat setelah menerima laporan. Evakuasi dari Desa Komodo menuju Labuan Bajo dilakukan sekitar pukul 13.30 WITA.
“Setelah menerima informasi dari Puskesmas Komodo tentang darurat bayi di desa tersebut, tim PHC langsung bergerak untuk membantu evakuasi agar segera dirujuk ke RS Marombok,” ujar Qirei, Plt. Direktur Utama PHC, kepada Labuan Bajo Terkini di Labuan Bajo, Sabtu (21/2).
Qirei menambahkan bahwa bantuan ini merupakan respons cepat terhadap situasi darurat masyarakat di wilayah kepulauan yang menghadapi tantangan akses transportasi kesehatan.
“Dalam situasi seperti ini, kecepatan sangat penting. Kami berusaha agar pasien bisa segera mendapatkan perawatan medis lanjutan,” jelasnya.
Meskipun evakuasi berjalan lancar, kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga. Mereka menyampaikan bahwa ketergantungan pada bantuan pihak luar menunjukkan belum adanya sistem rujukan darurat laut yang siap sedia.
Salah satu warga Pulau Komodo bernama Kinan, mengungkapkan terima kasih kepada PHC namun menekankan perlunya speedboat ambulans permanen di Puskesmas Komodo.
“Terima kasih untuk bantuan dari PHC. Tanpa speedboat ambulans, setiap keadaan darurat selalu berisiko mengancam waktu dan keselamatan pasien,” tulis Kinan saat dikonfirmasi Labuan Bajo Terkini, Sabtu (21/2) , petang.
Kinan juga mengingatkan bahwa Pulau Komodo berkontribusi besar bagi pariwisata nasional, sehingga pantas mendapatkan dukungan fasilitas kesehatan darurat yang memadai.
“Sangat memprihatinkan desa kami tidak ada speedboat ambulans. Jika ada yang sakit parah, tidak ada cara lain untuk membawanya ke Labuan Bajo. Pulau yang jadi pintu masuk wisata dunia seharusnya didukung fasilitas yang layak,” pungkasnya.











Tinggalkan Balasan