LABUAN BAJO  – Ritual adat yang dilakukan oleh Suku Ata Modo di perairan Pulau Padar beberapa jam sebelum ditemukannya jasad Fernando Martin Carreras, pelatih tim wanita sepak bola Valencia CF, menjadi sorotan sebagai bentuk kearifan lokal yang turut mendukung upaya pencarian korban tenggelamnya KM Putri Sakinah.

Ramang, tokoh muda warga Pulau Komodo dan anggota Komunitas Pemuda Pelestari Budaya Ata Modo, menyampaikan pandangannya terkait ritual tersebut.

“Ritual yang kami lakukan bukan sekadar tradisi kuno, melainkan bentuk penghormatan kita kepada alam yang telah memberi kehidupan serta harapan agar para korban dapat segera ditemukan dan kembali ke pangkuan keluarga,” ujar Ramang saat diwawancarai pada  Minggu, (11/01) pagi.

Ia menambahkan, meskipun banyak generasi muda yang kini terpapar perkembangan zaman, nilai-nilai budaya leluhur tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Ata Modo.

“Kita sebagai generasi muda berkomitmen untuk melestarikan tradisi ini, bukan hanya sebagai identitas, tetapi juga sebagai cara untuk menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam yang telah dipercaya oleh nenek moyang kita,” jelasnya.

Kapal wisata KM Putri Sakinah dilaporkan mengalami mati mesin sekitar pukul 20.30 Wita pada Jumat malam (26/12/2025) saat berlayar dari Pulau Komodo menuju Pulau Padar.

Dalam kondisi cuaca buruk, kapal terombang-ambing hingga tenggelam, menyebabkan sebagian penumpang dan awak berhasil menyelamatkan diri.

Namun, empat orang termasuk Fernando beserta tiga anaknya, Mateo Martin Garcia, Maria Lia Martinez Ortuno, dan Enrique Javier Martinez Ortuno, dinyatakan hilang. Istri Fernando, Andrea Ortuño, serta anak lain mereka Mar Martinez Ortuno selamat dan dievakuasi ke darat.

Upaya pencarian dilakukan sejak malam kejadian oleh Tim SAR gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah, dan relawan. Pada hari keempat pencarian, Senin (29/12/2025), satu korban anak perempuan ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Selain upaya profesional, solidaritas juga datang dari berbagai kalangan. Pada Jumat (2/1/2026) malam, umat Katolik menggelar doa bersama dan menyalakan 1.000 lilin di kawasan Waterfront Labuan Bajo, dengan kehadiran Andrea Ortuño dan keluarga.

Suasana haru menyelimuti acara saat doa Rosario dilantunkan.

Keesokan harinya, Sabtu (3/1/2026), tokoh adat Suku Bajo juga menggelar ritual adat di perairan Pulau Padar dengan meletakkan sirih pinang dan sebatang rokok sebagai simbol harapan agar para korban segera ditemukan.

Tak hanya itu, Suku Ata Modo sebagai penduduk asli Pulau Komodo yang telah mendiami wilayah tersebut jauh sebelum terbentuknya Taman Nasional Komodo, juga turut berkontribusi.

Pada Minggu (4/1/2026) sekitar pukul 06.00 Wita, seorang tetua adat memimpin ritual adat sebagai bentuk permohonan dan penghormatan kepada alam serta leluhur.

Dalam video yang kemudian tersebar luas melalui akun Facebook @Allnoliendra, tampak seorang pria lanjut usia duduk di ujung lambung kapal motor berwarna biru dengan sesajian berupa telur ayam di atas piring putih, daun pisang hijau, dan satu sisir pisang di hadapannya. Tetua adat tersebut terlihat khusyuk melafalkan doa.

Unggahan tersebut mendapat respons positif dari warganet yang menilai keterlibatan ritual adat sebagai bentuk kearifan lokal yang patut dihargai, berdampingan dengan upaya profesional Tim SAR.

Tak lama setelah ritual berlangsung, sekitar pukul 08.47 Wita pada hari yang sama, jasad Fernando ditemukan mengapung.

Namun, pencarian untuk dua anaknya yang masih hilang terus dilakukan, dengan operasi diperpanjang selama tiga hari mulai 5 hingga 7 Januari 2026 dan dilanjutkan lagi dua hari kedepannya hingga penutupan pencarian secara resmi oleh pemerintah dan Basarnas.

Suku Ata Modo secara harfiah berarti “Orang Modo” atau “Orang yang tinggal di hutan/naga”, dengan pulau mereka disebut “Tana Modo”.

Mereka hidup berdampingan dengan komodo dan memiliki budaya serta bahasa sendiri, menggunakan Bahasa Komodo, Manggarai, Bima, Bugis, dan Bahasa Indonesia untuk berinteraksi dengan pendatang.

Kelompok masyarakat ini bersifat komunal dengan struktur adat yang dipimpin oleh tetua adat, sebagian besar bekerja sebagai nelayan.

Tradisi mereka mengutamakan penghormatan kepada roh leluhur, dengan ritual adat yang dilakukan untuk berbagai acara termasuk yang berkaitan dengan hubungan manusia dan alam.

Meskipun telah menetap selama ribuan tahun dan berperan penting dalam konservasi, identitas serta hak-hak mereka seringkali kurang diakui dalam pengelolaan Taman Nasional Komodo yang mendunia.