LABUAN BAJO – Seekor buaya muara (Crocodylus porosus) terpantau berenang di kawasan wisata perairan Pulau Rinca, tepatnya di sekitar Strawberry Rock dan Pulau Kalong, Jumat (17/7) lalu.
Kemunculan satwa yang menjadi predator puncak ekosistem itu kini memicu perhatian serius, termasuk Organisasi Masyarakat (Ormas) Pemuda Manggarai Barat Bersatu (PMBB) meminta pemerintah dan Balai Taman Nasional Komodo (TNK) bertindak cepat demi keselamatan wisatawan dan warga.
Berdasarkan data yang dihimpun Labuan Bajo Terkini, keberadaan buaya pertama kali diterima TNK dari pengunjung dan petugas Resort Kampung Rinca pada pukul 15.00 WITA.
Lokasi tersebut merupakan jalur pelayaran utama, lokasi wisata andalan, sekaligus wilayah aktivitas nelayan harian.
Menanggapi temuan itu, Ketua Pemuda Manggarai Barat Bersatu (PMBB) Obe Hormat meminta Pemkab Manggarai Barat dan TNK segera melakukan kajian mendalam, pemantauan intensif, dan langkah mitigasi risiko di titik tersebut.
“Keberadaan buaya di jalur pelayaran dan lokasi wisata harus jadi perhatian serius. Keselamatan masyarakat lokal, wisatawan, dan pelaku usaha pariwisata adalah prioritas utama,” tegas Obe Hormat dalam pernyataan resminya, Kamis (23/7).
PMBB menekankan, pihaknya mendukung penuh upaya konservasi satwa liar. Namun, harus ada keseimbangan jelas antara perlindungan satwa dan perlindungan nyawa manusia.
Organisasi ini juga mendesak adanya informasi resmi yang terbuka agar tak memicu kepanikan, tapi tetap menaikkan tingkat kewaspadaan semua pihak.
“Koordinasi cepat, transparan, dan melibatkan masyarakat mutlak diperlukan agar risiko bisa ditekan seminimal mungkin,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) Hendrikus Rani Siga menjelaskan bahwa buaya muara memang merupakan satwa asli Nusa Tenggara Timur.
Di Manggarai Barat, penyebaran alaminya umumnya berada di muara sungai, kawasan hutan bakau, dan pesisir seperti di Nanga Nae, belakang kawasan Hotel Jayakarta, hingga Desa Golo Sepang.
Secara ekologis, buaya muara adalah hewan semi-akuatik dengan kemampuan berenang jarak jauh dan berpindah antarpulau mengikuti arus, ketersediaan mangsa, atau pola migrasi alami bahkan diketahui mampu bergerak dari wilayah Australia hingga ke perairan Nusa Tenggara.
Kemunculan Buaya di kawasan Pulau Rinca dinilai TNK sebagai pergerakan wajar di luar habitat utamanya.
“Kami terus melakukan pemantauan bersama Balai Besar KSDA NTT. Masyarakat dan pelaku wisata kami imbau meningkatkan kewaspadaan, hindari berenang atau aktivitas di air di lokasi tersebut, serta segera lapor jika kembali melihat satwa ini,” jelas Hendrikus, Kamis, (23/7).
Hingga saat ini belum ada laporan insiden serangan, namun keberadaan buaya di jalur wisata padat ini menjadi pengingat pentingnya harmonisasi ketat antara pelestarian ekosistem dan keamanan aktivitas manusia di kawasan warisan dunia ini (*).











Tinggalkan Balasan