LABUAN BAJO – Ancaman kebakaran di Destinasi Super Prioritas (DSP) Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, terus meroket dalam tiga tahun terakhir, namun kemampuan penanggulangan belum sebanding dengan risiko yang ada.

Data Satpol PP dan Damkar Labuan Bajo mencatat lonjakan kasus dari 12 kejadian (2024), melonjak jadi 23 kasus (2025), dan hingga pertengahan Juli 2026 sudah tercatat 15 kali kebakaran.

Ancaman kebakaran di Destinasi Super Prioritas (DSP) Labuan Bajo Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur,
Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Manggarai Barat Yeremias Ontong – Foto: Louis Mindjo

Kepala Satpol PP Manggarai Barat, Yeremias Ontong, kepada Labuan Bajo Terkini, mengakui kenaikan drastis ini menjadi tantangan besar.

“Kebakaran tidak hanya memakan rumah warga, tapi juga lahan, bangunan usaha hingga fasilitas umum. Ini ancaman nyata bagi keselamatan dan kerugian besar,” ujarnya, Kamis, (23/7).

Data Lengkap Kejadian:

  • 2024: 12 kasus (6 lahan kering, 3 rumah, 1 rumah kos, 1 hotel, 1 kios)
  • 2025: 23 kasus (11 lahan, 11 bangunan, 1 kapal di Pelabuhan Marina); 52 korban, 224 warga terdampak
  • Januari–Juli 2026: 15 kasus (6 bangunan/rumah, 6 lahan, 3 kendaraan/kapal/fasilitas); 20 korban, 44 warga terdampak

Kebakaran lahan mendominasi saat musim kemarau, terutama di kawasan perbukitan Labuan Bajo dan Kecamatan Komodo.

Peristiwa terbesar terjadi 15 Juli 2026, di mana api melahap 100 hektare lahan dari utara Plataran Resort hingga Bukit Keranga, namun berhasil dikendalikan sebelum menjangkau pemukiman dan objek wisata.

Penyebab beragam: ada yang disengaja, kelalaian (membuang puntung rokok, membakar sampah tak diawasi), hingga cuaca panas ekstrem. Untuk bangunan, penyebab utama korsleting listrik dan kelalaian memasak.

Keterbatasan Mobil Damkar: Satu Mobil untuk Seluruh Wilayah Manggarai Barat

Di tengah lonjakan kasus, sarana prasarana Damkar masih sangat minim. Saat ini hanya tersedia 1 unit mobil pemadam, 1 unit mobil suplai air, dan 20 personel untuk wilayah sangat luas.

“Kami hanya mampu melayani maksimal di kawasan Labuan Bajo. Daerah jauh sulit dijangkau dengan cepat,” kata Yeremias.

Berdasarkan kajian kebutuhan, idealnya butuh 150 personel dan minimal 10 unit mobil, yang ditempatkan di titik strategis: Labuan Bajo, Lembor, Kuwus, Boleng, untuk memangkas waktu tanggapan.

Masalah lain, tidak ada sumber air sendiri. Petugas bergantung pada sumur warga, bantuan hotel, PDAM, atau instansi lain.

Sementara di daerah terpencil, waktu tempuh bisa berjam-jam karena medan sulit dan akses jalan terbatas. Saat ini, operasional sangat bergantung dukungan TNI AL, Polri, BPBD, Brimob, PDAM, dan hotel yang menyediakan air serta alat bantu.

Karena keterbatasan armada, pencegahan jadi prioritas. Sosialisasi rutin digelar di sekolah, puskesmas, hotel, kantor pemerintahan, hingga desa, tahun ini diperluas ke Lembor, Boleng, Pacar. Patroli kawasan rawan ditingkatkan saat kemarau.

Kasat Pol PP Manggarai Barat Yeremias mengimbau masyarakat, pengusaha, dan pengelola wisata untuk tidak menganggap remeh api.

“Jangan bakar lahan sembarangan, awasi pembakaran sampah, cek instalasi listrik. Segera lapor jika ada titik api ke Call Center Damkar: 0851-3440-7380,” tegasnya.

Kasus kebakaran di Manggarai Barat bukan sekadar bencana alam, tapi masalah kapasitas penanggulangan yang belum sebanding dengan pesatnya pembangunan dan luas wilayah.

Tanpa penambahan signifikan armada dan personel, risiko kerugian lebih besar tetap mengancam setiap kali kemarau tiba (*).