LABUAN BAJO – Menyambut Festival Golo Koe Maria Asumta Nusantara 2026, panitia menggelar edukasi lingkungan bertajuk “Labuan Bajo Tanpa Sampah”. Melalui pemutaran film, warga diajak memahami dampak kerusakan alam dan menjadikan kebersihan sebagai wujud cinta serta tanggung jawab merawat “Ibu Bumi”.
Kegiatan ini secara khusus menyasar generasi muda agar tumbuh menjadi agen perubahan yang aktif menekan produksi sampah di Labuan Bajo.
Humas Panitia festival Golo Koe 2026, RD Heribertus Ratu, Pr, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari persiapan matang panitia untuk memastikan nilai-nilai utama festival benar-benar terwujud dalam tindakan nyata, bukan sekadar seremonial.
“Tema besar tahun ini adalah Ziarah Komunal dalam Persekutuan Sinergis untuk Merawat Keutuhan Ciptaan. Artinya, kehadiran kita di sini, ibadah kita, dan perayaan iman kita harus dibarengi dengan tanggung jawab menjaga alam yang merupakan anugerah Tuhan. Kami tidak ingin Festival Golo Koe hanya menjadi acara besar yang indah, namun meninggalkan tumpukan sampah di belakangnya,” tegas RD Heribertus Ratu, Pr, Jumat, (31/7).
Ia menambahkan, sinergi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan komunitas lingkungan sangat strategis agar pesan kebersihan ini sampai ke seluruh lapisan umat.
Melalui edukasi sejak dini, diharapkan setiap peserta yang hadir menjadi penyebar semangat baru bahwa menjaga kebersihan Labuan Bajo adalah panggilan bersama.
“Kami ingin menanamkan pemahaman bahwa merawat lingkungan sama artinya dengan merawat kehidupan dan iman kita sendiri. Kebiasaan kecil yang kita bangun mulai hari ini, akan menjadi perubahan besar bagi masa depan Manggarai Barat,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Kabupaten Manggarai Barat, Vinsensius Gande, yang hadir sebagai narasumber utama, menegaskan adanya pergeseran besar dalam strategi pengelolaan sampah pemerintah daerah.
Menurutnya, pola lama yang mengandalkan pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan akhir sudah tidak relevan lagi dengan kondisi saat ini.
“Kami mengubah paradigma pengelolaan sampah. Dulu pola pikirnya ‘kumpul, angkut, buang’, sekarang kami fokus ke pengurangan sampah langsung dari sumbernya atau di hulu,” tegas Vinsensius, Jumat, (31/7).
Ia memaparkan data bahwa timbulan sampah di Labuan Bajo saat ini mencapai 26 hingga 27 ton per hari. Angka yang cukup besar ini menjadi alasan utama diterbitkannya Peraturan Bupati Nomor 16 Tahun 2025 yang secara tegas membatasi penggunaan plastik sekali pakai di seluruh wilayah Manggarai Barat.
Vinsensius juga mengimbau seluruh masyarakat untuk mulai menerapkan pemilahan sampah sejak dari rumah. Warga diminta menyediakan wadah terpisah berdasarkan jenis sampah: organik, anorganik, dan residu. Langkah ini dinilai paling efektif untuk memutus rantai penumpukan sampah yang mencemari lingkungan.
Lani dari komunitas Lino Tana Dite berbagi pengalaman nyata mengenai inovasi pengolahan limbah. Ia dan rekan-rekan pemuda di Labuan Bajo telah membuktikan bahwa limbah yang dianggap kotoran bisa diubah menjadi barang bernilai ekonomi.
“Kami mengolah limbah kulit buah dan sisa ikan menjadi asam amino serta pupuk organik cair yang bermanfaat bagi pertanian. Ini bukti bahwa sampah bukan sekadar masalah, tapi bisa jadi berkah jika dikelola dengan benar,” ujar Lani, kepada Labuan Bajo Terkini, Jumat, (31/7).
Ia mengajak rekan-rekan generasi muda untuk memulai perubahan dari hal sederhana, seperti membawa tas belanja sendiri dan botol minum (tumbler) ke mana pun pergi, guna menekan drastis penggunaan plastik sekali pakai.
“Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Mari mencintai lingkungan seperti kita mencintai diri sendiri, agar bumi ini tetap bersih dan layak huni,” tambahnya.
Sebagai puncak dari kampanye ini, Festival Golo Koe 2026 akan menjadi ruang uji penerapan aturan lingkungan yang ketat. Panitia menegaskan, selama pelaksanaan festival, seluruh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) wajib mengelola sampah secara mandiri dan dilarang keras memberikan kantong plastik kepada pengunjung.
Selain itu, panitia juga mengadakan kompetisi Lomba Wilayah Gereja Terbersih yang melibatkan tiga paroki utama di wilayah Labuan Bajo. Penilaian mencakup aspek kebersihan fisik lingkungan hingga dokumentasi video edukasi tentang pemilahan sampah yang dilakukan umat sehari-hari.
Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari DLHP Manggarai Barat serta berbagai lembaga swadaya masyarakat yang peduli kelestarian ekosistem Labuan Bajo. Harapannya, kesadaran kolektif yang tumbuh dari kegiatan ini menjadikan kebersihan bukan lagi sekadar kewajiban, melainkan budaya yang menjaga keindahan dan keberlanjutan destinasi wisata kelas dunia ini (*).











Tinggalkan Balasan