LABUAN BAJO TERKINI – Ekowisata di Kampung Kerora, Pulau Rinca, yang dibuka oleh Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) bersama Pokdarwis setempat pada 6 Maret 2025 lalu, masih sepi pengunjung.
Kepala Dusun Kerora, Basir, mengungkapkan bahwa masyarakat setempat antusias dengan pembukaan jalur treking, namun hingga saat ini belum ada wisatawan yang berkunjung, kemungkinan disebabkan oleh promosi yang kurang.
“Dari awal kami sudah menginisiasi kerjasama ini, hanya sampai saat ini belum ada tamu yang mau berkunjung ke Kerora,” ujar Basir dikonfirmasi labuanbajoterkini.id via whatsapp, Jumat [04/3/2025].
Sementara itu, Hendrikus Rani Siga, Kepala BTNK, berencana untuk mendiskusikan keadaan ini dengan kelompok sadar wisata [Pokdarwis] setempat dan mengharapkan dukungan dari agen perjalanan untuk menjual paket wisata ke Kerora, meski saat ini belum ada kerjasama formal.
“Nanti saya tanya ke lapangan dulu ya,” kata Hendrikus via WhatsApp, Sabtu [5/04/2025].
Menyoal Narasi ‘Jual Beli Anak Komodo
Basir juga menyampaikan keberatan atas narasi BTNK yang mengaitkan pembukaan jalur treking dengan upaya menghindari praktik jual beli anak komodo, Ia menyatakan bahwa hal ini dapat memberi kesan negatif terhadap warga Kerora.
“Hanya saya pribadi agak keberatan kalau salah satu alasan pembukaan jalur treking itu untuk menghindari praktek jual beli anak komodo. Dan ini narasi yang sering disampaikan oleh kepala BTNK. Padahal faktanya Kerora juga punya potensi yang sama dengan Kampung Komodo dan Kampung Rinca,” bebernya.
Hengki mengakui bahwa narasi tersebut perlu ditangani agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
“Untuk menjadi catatan saja bagi masyarakat yang lain. Kalo mereka keberatan, semoga kejadian serupa tidak akan terjadi. Dan tentunya narasi ini tidak akan ada lagi,” tegasnya.
Adapun peluncuran ekowisata Kampung Kerora bertujuan meningkatkan ekonomi lokal dan menjaga kelestarian alam.Narasi tentang tindakan ilegal harus dihindari.
“Kami tugasnya menjaga kelestarian sumberdaya alam dan menjamin kawasan aman dari tindakan-tindakan ilegal dan merusak,” jelas Hengki.
Wisatawan dapat mengakses lokasi dengan perjalanan dari Labuan Bajo atau penyeberangan laut dari Kampung Soknar ke Pulau Rinca.
Di kampung tersebut, terdapat aktivitas berjalan kaki dipandu pemandu wisata, serta kesempatan untuk melihat satwa dan melepas tukik ke laut.
‘Tiket dapat dibeli melalui aplikasi SiOra, dengan tarif Rp200 ribu untuk treking grup dan Rp400 ribu untuk paket lepas tukik”, pungkas Hendrikus.
Untuk informasi, pada tahun 2023, TNK mencatat 334.206 pengunjung, mayoritas adalah wisatawan mancanegara.











Tinggalkan Balasan