LABUAN BAJO TERKINI – Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores [BPOLBF] bersama Badan Peduli Taman Nasional Komodo dan Perairan Sekitarnya [BPTNKPS] melakukan kunjungan dan survei di Dusun Kerora, Desa Pasir Panjang, Pulau Rinca, Manggarai Barat, untuk meninjau kondisi terkini dusun tersebut.
Pada kunjungan Rabu [16/04/2025], tim BPOLBF dan BPTNKPS menemukan beberapa isu penting yang butuh perhatian, yaitu akses air bersih, pagar penghalang antara Komodo dan masyarakat desa, listrik, tenaga medis lokal, serta fasilitas sekolah untuk SDI Kerora.
Dalam diskusi dengan Kepala Dusun Kerora, Marselinus Agot, yang mewakili BPTNK PS, menekankan pentingnya pemberdayaan masyarakat, akses bantuan jaringan air minum yang memadai, dan perluasan batas wilayah pagar. Ia juga meminta perhatian lebih dari pemerintah terhadap warga sekitar TNK.
Warga Kerora, yang merupakan penjaga Taman Nasional Komodo, berharap agar pemerintah pusat dan daerah lebih memperhatikan kesejahteraan mereka serta kampung-kampung lain di sekitar TNK, ujar Marsel Agot, mengutip keterangan tertulis dari laman bpolbf, Kamis [17/04/2025].
Marsel Agot menyampaikan agar pemerintah pusat tidak hanya fokus pada pelestarian satwa komodo, tetapi juga memperhatikan kehidupan warga yang telah lama tinggal di wilayah tersebut.
Sementara itu, BPOLBF telah mengidentifikasi Dusun Kerora sebagai destinasi wisata dengan potensi besar, berkat jalur trekking yang dikembangkan oleh masyarakat setempat dan berkolaborasi dengan Balai Taman Nasional Komodo, dengan kegiatan wisata minat khusus seperti bird watching Kakatua Jambul Kuning di beberapa lokasi.
Frans Teguh, pelaksana tugas Direktur Utama BPOLBF, menegaskan pentingnya potensi pariwisata Dusun Kerora dan pentingnya kolaborasi dengan BPTNKPS untuk menyelaraskan upaya konservasi dengan pembangunan ekonomi.
“Kunjungan kami ke Dusun Kerora hari ini adalah bagian dari komitmen BPOLBF untuk memastikan bahwa pengembangan pariwisata kita berjalan seiring dengan pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat. Dusun Kerora memiliki potensi wisata yang luar biasa, mulai dari keindahan alam, kekayaan hayati, hingga budaya lokal yang masih sangat autentik. Sinergi dengan BPTNK PS menjadi sangat penting untuk menyelaraskan upaya konservasi dengan pengembangan potensi ekonomi berbasis masyarakat. Kami melihat peluang besar bagi Kerora untuk menjadi destinasi wisata berbasis komunitas yang mampu menarik wisatawan sekaligus menjaga kearifan lokal”, jelas Frans.
Frans menyatakan bahwa Desa Kerora memiliki lokasi strategis dekat ITDC Golomori. Dusun ini berpotensi menjadi alternatif aktivitas wisata yang memberdayakan masyarakat, sambil menjaga ekosistem Taman Nasional Komodo dan mendukung pariwisata inklusif di Labuan Bajo, Manggarai Barat.
Kunjungan tersebut mengungkapkan bahwa ada sekitar 78 keluarga di Dusun Kerora dan 15 keluarga di Dusun Waerebo, yang berjarak sekitar 500 meter dari Kerora.
Pembangunan pagar sebelumnya hanya meliputi Dusun Kerora, sehingga Dusun Waerebo tidak terlindungi. Situasi ini dikhawatirkan akan membahayakan pelajar yang sering melintasi area tersebut, di mana terdapat dua sarang Komodo.
BPTNK PS adalah organisasi non-profit yang fokus pada pelestarian dan pengelolaan Taman Nasional Komodo di Nusa Tenggara Timur. Organisasi ini dibentuk di Labuan Bajo berdasarkan keputusan Bupati Manggarai Barat pada 20 September 2024. Tujuan pendirian BPTNK PS adalah untuk membantu pemerintah menangani masalah dan merespons isu yang muncul di kawasan Taman Nasional Komodo. Saat ini, BPTNK PS sedang menyusun proposal pendanaan untuk pemberdayaan masyarakat di Desa Kerora.










Tinggalkan Balasan