LABUAN BAJO – Cahaya pagi menyebar dengan nuansa keemasan yang lembut, memantul melalui jendela Gereja Katedral Roh Kudus Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT, pada hari Minggu (9/11/2025).
Di tengah rumah ibadah yang berdiri teguh di pusat kota pariwisata dunia, sekitar 2.000 umat Katolik berkumpul dengan khidmat, mengikuti perayaan Ekaristi.
Sementara musik liturgi bergema, suasana semakin mengharukan saat lagu dinyanyikan untuk mendukung misa Pesta Pemberkatan Basilika Lateran.
Berbeda dari biasanya, anggota kelompok koor pada hari itu mengenakan seragam cokelat dengan lambang pangkat khas Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri).
Dengan ekspresi yang mendalam, Kelompok Koor Polres Manggarai Barat, yang terdiri dari polisi pria, polisi wanita, dan ibu-ibu Bhayangkari, memberikan penampilan yang memukau di hadapan ribuan umat Katolik yang hadir.
Dipimpin oleh Romo Laurens Sopang, Pr., misa ini tidak hanya menjadi kesempatan spiritual, tetapi juga mencerminkan semboyan “Polri Untuk Masyarakat”.
Kapolres Mabar, AKBP Christian Kadang, S.I.K., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan kontribusi positif anggota Polres Manggarai Barat dalam kehidupan beragama dan upaya mempererat hubungan antara polisi dan masyarakat, khususnya di kalangan komunitas Katolik.
Ia menambahkan bahwa di tengah dinamika sosial yang sering membuat polisi terlihat formal dan terpisah, momen ini menunjukkan sisi kemanusiaan institusi kepolisian. “Jangan hanya melihat Polri dari sudut pandang negatif akibat oknum tertentu, karena banyak hal positif yang dilakukan oleh anggota kami, termasuk melalui kegiatan keagamaan ini,” ungkapnya.
Menurutnya, kehadiran polisi dalam perayaan keagamaan sering disamakan dengan pengamanan, namun di Gereja Katedral Roh Kudus, mereka menjadi bagian dari ibadah suci, berbaur dengan umat dalam merayakan iman.
“Ini menunjukkan bahwa peran sebagai aparat negara dapat berjalan beriringan dengan keterlibatan aktif di masyarakat, termasuk dalam kegiatan keagamaan,” tambahnya.
AkBP Christian Kadang juga menyatakan bahwa kegiatan ini mencerminkan Polri yang tidak hanya berbicara kepada masyarakat, tetapi juga mewujudkannya. “Keamanan dan kedamaian bukan hanya soal patroli, tetapi juga melibatkan hati dan jiwa dalam kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Ia juga menyampaikan rencana ke depan bagi Kelompok Koor Polres Manggarai Barat untuk mengunjungi beberapa paroki di wilayah Keuskupan Labuan Bajo. “Kedepannya, kami akan agendakan membawakan lagu-lagu liturgi di beberapa paroki dan stasi di Kota Labuan Bajo,” katanya.
Salah satu warga Labuan Bajo, Kanisius Jehabut, yang hadir dalam misa tersebut, menyatakan bahwa suasana misa terasa lebih istimewa, khidmat dan penuh makna.
Melalui doa dan lagu, tersirat harmoni antara negara dan iman di altar Tuhan. Dalam homilinya, Romo Laurens menyampaikan pesan sederhana namun mengena. “Dulu kita takut pada Polisi. Sekarang Polisi adalah sahabat kita. Hari ini mereka bernyanyi dalam koor, yang berarti kita bersatu dalam membangun Keuskupan Labuan Bajo,” tulis Kanisius di akun Facebook-nya.
Baginya, kata-kata tersebut memiliki makna yang dalam. “Gereja dan Polisi bukan dua dunia yang terpisahkan, tetapi dua panggilan yang saling berkaitan dalam kemanusiaan.”
Lebih lanjut, Kanisius menekankan bahwa Gereja memperkuat nilai moral dan spiritual, sementara Polisi menjaga ketertiban dan keadilan. Keduanya bersatu dalam misi yang sama: melayani kehidupan dan memuliakan martabat manusia.











Tinggalkan Balasan