LABUAN BAJO – Musibah ambruknya jembatan gantung di kawasan wisata Air Terjun Cunca Wulang yang merenggut nyawa dua wisatawan asal Austria, Jurgen (54) dan Astrid (56), pada Minggu (24/5), memicu sorotan keras.

Anggota DPRD Manggarai Barat sekaligus Ketua DPD Partai Perindo, Hasanudin, menilai kejadian ini bukan sekadar kecelakaan biasa, melainkan bukti nyata kegagalan pemerintah daerah dalam menjaga dan memperbaiki infrastruktur pariwisata yang menjadi tumpuan ekonomi daerah.

Kedua turis asing tersebut dilaporkan jatuh dari ketinggian sekitar 10 meter ke bebatuan di dasar sungai, tepat saat mereka menyeberangi jembatan berbahan kayu yang mendadak runtuh.

Peristiwa nahas itu terjadi di tengah ramainya kunjungan wisatawan, dan kini menjadi sorotan publik nasional maupun internasional.

Menyikapi duka mendalam ini, Hasanudin menyampaikan belasungkawa. Namun di balik rasa kehilangan itu, ia menegaskan tragedi ini harus menjadi cambuk keras bagi pengelola pariwisata dan pemda.

Menurutnya, insiden ini membuka fakta memprihatinkan bahwa sarana dan prasarana wisata di Labuan Bajo masih jauh dari kata aman dan layak, padahal statusnya sudah diangkat menjadi destinasi premium.

“Di satu sisi ini kecelakaan, tapi di sisi lain saya melihat ada kegagalan perbaikan dan pemeliharaan infrastruktur pariwisata di Labuan Bajo. Ini masalah serius, bukan hal sepele yang bisa dibiarkan,” tegas Hasanudin saat dikonfirmasi, Labuan Bajo Terkini, pada Senin (25/5), Siang.

Citra Destinasi Premium Terancam Rusak

Poin utama yang dikhawatirkan politisi ini adalah dampak jangka panjang terhadap nama baik Labuan Bajo. Ia mengingatkan, kawasan ini kini menjadi kebanggaan nasional yang dipromosikan ke mancanegara sebagai tujuan wisata kelas atas.

Standar keamanan pun seharusnya sejalan dengan status tersebut. Namun, tragedi berulang seperti ini berpotensi menghancurkan kepercayaan wisatawan yang sudah dibangun susah payah.

“Saya sangat khawatir dengan citra pariwisata Labuan Bajo. Sekarang kita sudah jadi destinasi premium, tapi kejadian seperti ini justru memberi kesan buruk. Kepercayaan wisatawan adalah aset utama kita, kalau ini rusak, dampaknya panjang,” ujarnya dengan nada cemas.

Hasanudin juga menyoroti fakta bahwa kasus meninggalnya wisatawan asing di lokasi wisata Manggarai Barat sudah terjadi beberapa kali dalam kurun waktu terakhir.

Bagi dia, ini bukan kebetulan, melainkan indikasi kuat adanya lubang besar dalam sistem pengelolaan, pengawasan, dan penjaminan keamanan di lapangan yang tidak boleh ditutup-tutupi lagi.

“Pemerintah daerah harus segera lakukan evaluasi besar-besaran. Kenapa kasus seperti ini berulang? Artinya ada masalah mendasar yang belum disentuh. Ini tidak bisa dianggap biasa saja, harus disikapi dengan langkah nyata,” tegasnya.

Keamanan Berhubungan Langsung dengan Ekonomi

Sebagai wakil rakyat, Hasanudin memastikan akan terus mendesak pemda untuk menempatkan persoalan infrastruktur dan keselamatan di urutan teratas prioritas kerja.

Ia menegaskan, menjamin keselamatan dan kenyamanan bukan sekadar kewajiban moral, melainkan syarat mutlak agar wisatawan tidak lagi merasa takut atau enggan berkunjung ke Labuan Bajo.

“Kami di legislatif akan dorong serius soal ini. Jangan sampai kejadian ini membuat wisatawan asing jadi trauma dan malas datang lagi. Keamanan harus dijamin sepenuhnya, itu harga mati,” janjinya.

Lebih jauh, Hasanudin mengingatkan bahwa perbaikan fasilitas di lokasi wisata yang padat pengunjung memiliki kaitan erat dengan ekonomi warga dan pendapatan asli daerah (PAD).

Menurutnya, menjaga keamanan wisatawan sama artinya menjaga masa depan perekonomian masyarakat Manggarai Barat.

“Perbaikan infrastruktur di titik-titik wisata ramai harus jadi prioritas utama. Kenyamanan dan keamanan wisatawan itu berkaitan langsung dengan pendapatan daerah dan kesejahteraan masyarakat. Kalau wisatawan aman dan nyaman, ekonomi warga pasti berputar. Jangan sampai karena fasilitas yang tak terurus, kita rugi besar,” pungkas Hasanudin  (*).