LABUAN BAJO TERKINI–Inocentius Peni mengaku tidak setuju dengan pernyataan anggota DPRD Yopi Widyanti yang menyebut kualitas beras dari persawahan Lembor menurun, telihat dari warna beras kecolat-kecoklatan serta kalau dimasak rasanya pahit.

Ino Peni mengatakan, pernyataan yang dilontarkan Yopi mestinya tidak boleh menggeneralisir produk beras dari Lembor.

“Mungkin yang ibu Yopi alami dari satu dua petani yang kebetulan padinya mungkin sempat terendam air. Lalu ibu Yopi kebetulan beli, tapi tidak boleh menggeneralisir seluruh produk padi dari Lembor. Kita tiap hari juga makan beras Lembor itu berasnya bagus-bagus kok,” kata Ino Peni saat dihubungi, Rabu (19/3/2025).

Ino Peni menuturkan, bisa jadi pernyataan Yopi keluar berdasarkan pada pengalaman pribadinya, kendati maksudnya baik agar mendesak pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian Manggarai Barat supaya ada perhatian lebih.

“Mungkin maksud dia baik supaya meminta perhatian pemerintah dalam hal ini dinas pertanian terkait dengan pertanian sawah di Lembor supaya ada perhatian lebih,” kata politisi PAN itu.

“Tetapi mengeneralisir hasil beras yang buruk ini saya tidak setuju. Karena pada akhirnya itu menyebabkan beras Lembor di pasar itu menjadi rusak dan pasti akan berdampak kepada harga beras di pasar,” jelasnya.

Anggota DPRD dari dapil tiga itu menyebut bahwa pernyataan Yopi sangat merugikan petani yang berimbas kepada permainan harga beras.

“Pasti merugikan petani, sangat merugikan petani pernyataan ini, karena nanti harga beras akan dipermankan lagi jadinya,” tegas Ino Peni.

Ia pun meminta Yopi untuk meluruskan pernyataannya itu dengan memberikan data yang real dari desa mana yang kualitas berasnya tidak bagus di wilayah Kecamatan Lembor.

“Karifikasilah yang dia maksud yang kurang bagus itu di mana itu, tempatnya di mana, desanya di mana dan berapa banyak,” pintanya.

Sebelumnya, Yopi curhat makan beras (nasi) hasil dari persawahan Lembor akhir-akhir ini rasanya pahit. Berasnya juga berwarna kecoklat-coklatan. Hal itu disampaikannya pada sidang Panitia Khusus (Pansus) Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPj) Bupati Mabar 2024, bertempat di ruang rapat internal dewan, Senin (17/3/2025).

“Pa Kadis, ini curhat saja. Dulu Lembor itu lumbung beras NTT. Tetapi akhir-akhir ini makan beras Lembor itu pahit. Warna berasnya coklat-coklat-coklat-coklat. Kenapa ini pa Kadis?,” ujar Yopi Widiyanti sebagaimana ditulis florespost.net.

Saya, mau tidak mau beli beras di luar, karena kami ada usaha rumah makan juga,” katanya lagi.

Pada kesempatan yang sama, anggota Pansus LKPj yang lain, Yosef Paskalis Sudaryo dan Yosep Spandi, menegaskan, alokasi APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah) Mabar untuk Dinas Pertanian (TPHP) selama ini terlalu kecil.

Tahun 2025 hanya sekitar Rp3 miliar atau sekitar Rp2,7 miliar. Di sisi lain Manggarai Barat adalah daerah agraris, sekitar 80 %. Dan selama ini juga anggaran untuk sektor pertanian Mabar hanya ditopang pusat (APBN).

Diingatkan kepada Dinas Pertanian agar membangun argumentasi yang kuat dihadapan TAPD Mabar supaya anggaran yang dibawah ke sini (DPRD) juga besar, komentar Sudaryo.

Hal lain yang disoroti anggota Pansus di antaranya keterbatasan pupuk subsidi dan banyak pangan Mabar yang selama ini dipasok dari luar, seperti hortikultura dan sebagainya.

Menanggapi anggota Pansus, Kepala Dinas (Kadis) Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan) Laurensius Halu mengungkapkan, terkait cita rasa beras pahit, warna cokelat, ditengarai karena cuaca.

Namun demikian, selama ini di daerah irigasi Lembor sudah ada RMU-RMU bantuan pemerintah, katanya tanpa merinci lebih jauh soal cita rasa beras pahit dan warna kecokelatan.

Ia pun mengaku, bahwa yang dilakukan pihaknya belum maksimal. Usul saran dan pendapat dewan menjadi perhatian pihaknya ke depan.