LABUAN BAJO – Sebuah kisah kemanusiaan yang menyentuh hati terukir di tengah samudra. Theresa Arias Viviyanti, seorang bidan muda, mendadak menjadi sorotan publik setelah berhasil melakukan aksi penyelamatan nyawa ibu dan bayi dalam persalinan darurat di atas KM Dharma Rucitra VII, saat kapal tersebut berlayar dari Surabaya menuju Maumere, Jumat (22/5).

Tanpa dukungan fasilitas lengkap, ruang tindakan memadai, bahkan akses komunikasi yang stabil karena berada jauh di tengah laut, Theresa mengambil keputusan berisiko namun penuh ketulusan.

Ia berdiri di garis depan untuk menangani persalinan yang ternyata memiliki tingkat risiko tinggi.

Theresa mengenang momen itu bermula dari kabar panik yang disampaikan seorang kernet kapal. Ia dipanggil karena ada penumpang wanita yang akan melahirkan.

Sesampainya di ruang medis kapal, ia mendapati seorang petugas kesehatan pria sudah ada di lokasi, namun tampak ragu dan gugup menghadapi situasi darurat tersebut.

Pemeriksaan awal yang dilakukan Theresa langsung mengangkat tingkat kewaspadaannya.

Ibu hamil tersebut diketahui memiliki riwayat tekanan darah tinggi yang mencapai angka 160 mmHg, padahal selama masa kehamilan baru satu kali melakukan pemeriksaan kesehatan. Kondisi itu jelas tergolong berbahaya.

“Biasanya di puskesmas, kasus seperti ini harus segera dirujuk ke rumah sakit. Tapi ini di tengah laut. Saya bingung, tidak menolong kasihan, ditolong pun risikonya sangat besar,” ungkap Theresa saat dihubungi Labuan Bajo Terkini, Jumat,(22/5),malam.

Ia menceritakan kebimbangannya saat itu. Situasi makin sulit lantaran wanita tersebut akan melahirkan anak pertamanya. Rasa sakit dan ketidaktahuan membuatnya sangat panik, berteriak, dan terus ngedan jauh sebelum waktunya tiba.

Akibatnya, tenaga sang ibu justru terkuras habis saat proses persalinan memasuki fase paling krusial.

“Saya terus menenangkan, minta ibu mengatur napas. Prosesnya sempat terhenti karena tenaganya sudah habis. Saya hanya bisa beri semangat agar dia fokus kembali,” ujarnya.

Ketegangan memuncak saat kepala bayi mulai tampak. Theresa segera meminta bantuan petugas kesehatan lain di ruangan itu.

Dengan peralatan seadanya dan suasana penuh kepanikan, bayi pun akhirnya lahir. Namun, kelegaan belum datang; bayi perempuan itu tampak kebiruan dan belum mengeluarkan tangisan.

“Saya langsung minta bayi dikeringkan dan AC dimatikan agar tidak kedinginan. Lihat kondisi bayi diam, saya tepuk perlahan beberapa kali. Puji Tuhan, akhirnya dia menangis kencang,” kata Theresa dengan nada lega.

Tangisan pertama bayi yang kemudian diberi nama Clarista Lucitra Clau itu seketika mengubah suasana tegang menjadi penuh haru.

Nama ‘Clau’ sendiri merupakan tambahan yang diambil dari nama ibunya. Bahkan Kapten kapal diketahui sempat mencatat nama bayi tersebut di atas kertas sebagai kenang-kenangan peristiwa bersejarah itu.

Pasca persalinan, Theresa menilai kondisi ibu tersebut masih memerlukan pemantauan ketat. Mengingat sisa perjalanan masih cukup panjang hingga Maumere, ia menyarankan agar ibu dan bayi dirujuk saat kapal bersandar di pelabuhan Labuan Bajo guna mendapatkan penanganan medis lebih lengkap.

Pasangan suami istri itu diketahui berdomisili di Paga, Kabupaten Sikka, dengan asal daerah suami dari Kabupaten Malaka, NTT.

Kisah ini menjadi perbincangan luas di media sosial setelah Theresa mengunggah momen tersebut lewat status WhatsApp pribadinya saat tiba di Labuan Bajo.

Baginya, pengalaman ini adalah yang pertama kali ia jalani usai resmi menyandang gelar bidan. Ia baru saja menyelesaikan pendidikan profesi di Universitas Kadiri dan dilantik pada 9 Mei 2026 lalu.

Pengalaman magang di Puskesmas Wolomarang disebutnya turut mengasah ketenangan mentalnya dalam situasi kritis.

Meski kini dipuji sebagai pahlawan, Theresa menegaskan tindakannya murni atas dasar panggilan kemanusiaan dan tugas profesi, bukan untuk mencari ketenaran. Ia pun meminta masyarakat bijak menyikapi penyebaran foto-foto kejadian tersebut.

“Saya membantu dengan ikhlas, bukan cari popularitas. Tolong jangan gunakan foto saya untuk kepentingan pribadi atau konten tertentu. Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan,” tegasnya.

Kisah Theresa menjadi bukti nyata bahwa di tengah keterbatasan, keberanian, ketenangan, dan nilai kemanusiaan tetap menjadi kekuatan terbesar untuk menyelamatkan nyawa sesama.