LABUAN BAJO – Kebijakan kuota wisata di kawasan konservasi sering kali hanya dipahami sekadar sebagai angka pembatas jumlah pengunjung. Padahal, pendekatan yang terlalu kaku seperti itu justru berpotensi menimbulkan masalah baru.

Ketua DPC Gahawisri Labuan Bajo, Budi Widjaja, menawarkan pandangan berbeda untuk memahami konsep daya tampung ini. Ia mengibaratkan kapasitas sebuah destinasi wisata layaknya sebuah gelas.

Analogi 'Gelas' Daya Tampung Wisata TN Komodo: Jangan Batasi Angka, Tapi Atur Distribusi
Analogi ‘Gelas’ Daya Tampung Wisata TN Komodo: Jangan Batasi Angka, Tapi Atur Distribusi

“Setiap lokasi punya ‘gelas’-nya sendiri, artinya kapasitas ekologisnya berbeda-beda. Ada yang gelasnya besar karena wilayahnya luas dan tekanan lingkungannya kecil, tapi ada juga yang gelasnya kecil karena jalurnya sempit, topografinya sensitif, atau ekosistemnya rentan rusak,” jelas Budi dalam tulisannya, dikutip Labuan Bajo Terkini, Jumat (3/4).

Analogi ini sangat relevan diterapkan di Taman Nasional Komodo. Kawasan ini memiliki beragam tipe destinasi, mulai dari jalur pendakian, pantai, spot snorkeling, hingga lokasi penyelaman kelas dunia yang masing-masing punya karakter berbeda.

Misalnya, pulau dengan jalur treking yang luas tentu bisa menampung lebih banyak orang dibandingkan bukit terjal dengan jalan setapak sempit.

Begitu juga spot snorkeling yang batasnya ditentukan oleh luas terumbu karang, atau lokasi diving yang juga mempertimbangkan faktor keamanan arus laut.

Jangan Sampai ‘Air Meluap’

Budi menekankan, konsep kuota seharusnya bukan satu angka tunggal untuk seluruh kawasan, melainkan penjumlahan kapasitas dari setiap titik destinasi.

Ia kembali menggunakan analogi gelas untuk menjelaskan masalah yang sering terjadi.

“Bayangkan kalau ada 10 gelas ukuran berbeda, tapi airnya dituangkan sembarangan. Akibatnya, ada gelas yang tumpah meluap, tapi ada yang masih kosong melompong.

Luapan itu dalam pariwisata artinya kepadatan berlebih (overcrowding), kerusakan lingkungan, sampai pengalaman wisata yang jadi tidak nyaman,” paparnya.

Sebaliknya, jika air dituangkan sesuai ukuran gelas masing-masing, keseimbangan akan tercipta. Lingkungan tetap terjaga, wisatawan puas, dan ekonomi tetap berjalan.

Fokus pada Distribusi

Prinsip ini sejalan dengan manajemen konservasi modern, di mana tantangannya bukan lagi sekadar “membatasi jumlah”, melainkan “mengatur distribusi”.

“Tantangan utamanya bukan berapa banyak yang datang, tapi ke mana mereka disebar dan bagaimana alurnya diatur. Kalau kuota disesuaikan dengan daya tampung riil setiap lokasi, tekanan lingkungan tidak menumpuk di satu titik, kapal punya ruang gerak, dan pengunjung pun nyaman,” tambahnya.

Jika kebijakan tidak memperhatikan hal ini, yang terjadi justru distorsi: ada tempat yang sesak sekali, sementara tempat lain yang sebenarnya masih mampu menampung justru kosong.

“Konservasi pada akhirnya bukan soal menutup gelas rapat-rapat, tapi bagaimana kita mengisinya dengan bijak agar alam tetap lestari, pariwisata berjalan, dan ekonomi masyarakat tetap hidup,” pungkas Budi Widjaja.