LABUAN BAJO — Di pinggir pantai yang dikepung air pasang, puluhan siswa dan guru SDN Nanga Boleng, Desa Tanjung Boleng, Manggarai Barat NTT, berjuang memanggul harapan mereka sendiri. Sejak Jumat (11/9), kemarin, mereka terus bahu-membahu mengangkat batang bambu sepanjang delapan meter, berjalan menyusuri jembatan darurat menuju sekolah yang bangunannya hancur diguncang gempa.
Mobil pengangkut hanya bisa berhenti di ujung jembatan. Sisanya, mereka pikul sendiri satu per satu menembus jalur yang setiap hari dikepung air laut.
Sekolah yang hampir tenggelam oleh laut, dan Kelas yang hilang akibat gempa nagnitudo 7,7 pada 15 Agustus lalu meratakan tiga ruangan kelas: kelas I, IV, dan V. Bangunan itu kini tak layak lagi ditempati.
Kepada wartawan pada Sabtu,(12/9), Siang, Kepala Sekolah Emerlinda Mensi menegaskan, ketiga ruangan itu telah rusak.
Awalnya mereka mendirikan tenda darurat. Namun angin pesisir tak memberi ampun. Terpal tipis mudah terlepas, berkibar diterjang hembusan kencang. Suara gemuruh kain yang dipukul angin membuat anak-anak tak bisa berkonsentrasi.
“Tenda itu tak bertahan. Di pinggir pantai begini, angin kencang sekali. Anak-anak tak tenang belajar,” ujar Hasan, salah seorang guru sekolah SDN Nanga Boleng kepada Labuan Bajo Terkini Sabtu, Sore.

Mereka pun mengumpulkan dana sendiri. Bambu dibeli dari Kampung Merawang seharga Rp20 ribu per batang, sekitar 70 batang terkumpul.
Biaya sewa kendaraan pun keluar dari kantong pribadi. Mereka membangun struktur bambu yang lebih kokoh semata-mata agar proses belajar tak terhenti.
Janji bantuan terpal datang dari beberapa pihak, namun hingga kini belum terealisasi. Bahkan ada yang mensyaratkan: kerangka harus sudah berdiri dulu, baru bahan akan dikirim.
“Kami sudah berusaha membuat kerangkanya. Tapi terpal itu belum datang sama sekali,” keluh Hasan.
Sekolah ini memang hanya berjarak 30 menit dari Labuan Bajo, namun lokasinya terjebak oleh air laut pasang. Setiap pukul 10.00 hingga 15.00 WITA, air laut mengepung dari segala arah utara, timur, barat, hingga selatan.
Jalan masuk pun terendam. Mereka terpaksa membangun jembatan bambu sepanjang 100 meter setinggi dua meter agar tetap bisa melangkah ke tempat belajar.
Terpisah, Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Manggarai Barat, Agustinus Gias, saat dikonfirmasi, Labuan Bajo Terkini Sabtu, menjawab pertanyaan wartawan dengan singkat.
“Sedang menyusun Rencana Kebutuhan Barang.” tulis Agustinus.
Ketika ditanya kapan bantuan akan sampai, jawabannya makin pendek: “Berproses.”
Sementara itu, di tepi pantai yang basah dan berangin, anak-anak dan guru terus menegakkan bambu demi satu hal: agar pelajaran tetap berjalan, meski harus menunggu lama agar bantuan akhirnya datang.











Tinggalkan Balasan