LABUAN BAJO TERKINI -Perkembangan teknologi digital telah mengubah gaya hidup masyarakat, termasuk cara berbelanja. Di kota  Ruteng, platform belanja online memberikan kenyamanan dan efisiensi, menggantikan kebiasaan berbelanja di pasar tradisional.

Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan pedagang pasar, karena berkurangnya pembeli berdampak langsung pada pendapatan mereka.

Belanja online semakin populer di kota Ruteng, hal itu tentu memberikan dampak besar pada pasar konvensional yang sebelumnya menjadi pusat ekonomi lokal.

Penyuluh perindustrian dan perdagangan ahli muda dari Dinas Perdagangan Kabupaten Manggarai, Frans Y. Djalang kepada media ini, Selasa 6 Mei 2025 mengungkapkan bahwa pendapatan pedagang pasar mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir.

“Kami melakukan survei setiap minggu dan memang ada penurunan pendapatan,” ujarnya, meskipun belum tersedia data resmi secara keseluruhan”, kata dia.

Menurut Frans, banyak konsumen yang kini lebih memilih berbelanja melalui jasa titipan (jastip) maupun platform online karena dianggap lebih praktis dan menawarkan kualitas produk yang lebih segar, terutama untuk komoditas seperti sayuran, ikan, dan daging.

Selain itu, kehadiran toko-toko modern seperti DIY dan toko serba Rp35 ribu turut mempengaruhi daya beli masyarakat di pasar tradisional.

“Para pedagang konvensional mengatakan bahwa penurunan jumlah pembeli juga dipengaruhi oleh toko-toko modern yang menawarkan harga bersaing dan pelayanan lebih baik,” tambahnya.

Menjawab tantangan tersebut Pemerintah daerah telah melaksanakan pelatihan digitalisasi UMKM bekerja sama dengan Tokopedia pada tahun 2023, di mana 100 pelaku usaha di Kabupaten Manggarai dilatih untuk memasarkan produk secara daring, khususnya di sektor kuliner, hortikultura, dan kerajinan tangan.

“Hasil pelatihan cukup berdampak, namun tahun ini tidak kami lanjutkan karena adanya kebijakan efisiensi anggaran,” ujar Frans.

Ia juga menyampaikan bahwa masyarakat yang ingin membuka usaha mandiri dapat memanfaatkan perizinan online melalui aplikasi OSS untuk mendapatkan Nomor Induk Berusaha (NIB).

Adalah Mira (38 tahun), seorang konsumen aktif belanja online pada Selasa, 6 Mei 2025, menerangkan bahwa harga yang lebih murah serta kemudahan akses menjadi alasan utama dirinya beralih berbelanja daring.

“Belanja online menjadi pilihan utama saya karena lebih cepat dan praktis,” ujarnya.

Sementara itu, Yasin (27 tahun), pedagang kosmetik yang diwawancarai pada hari yang sama juga berjualan secara online, mengakui bahwa penjualan konvensional sempat menurun. Namun, dengan memanfaatkan platform online, penjualannya kembali meningkat.

“Saya tetap mempertahankan lapak agar bisa berinteraksi langsung dengan pelanggan, namun kini juga aktif berjualan secara online,” ungkapnya.

Hal serupa dirasakan Serviana (28 tahun) pedagang pakaian di pasar tradisional Ruteng. Menurutnya, meski belanja online bukan ancaman terbesar, tetap ada pengaruh terhadap jumlah pembeli.

Serviana pun berharap pemerintah dapat meningkatkan infrastruktur pasar agar lebih menarik minat masyarakat untuk kembali berbelanja langsung.

Saat ini, perubahan perilaku konsumen menuju belanja online menjadi tantangan nyata bagi pasar konvensional di kota Ruteng.

Meski begitu, peluang tetap terbuka lebar bagi para pedagang untuk beradaptasi melalui pemanfaatan teknologi.

Dukungan dari pemerintah dalam bentuk pelatihan, kebijakan digitalisasi, serta perbaikan infrastruktur pasar menjadi kunci penting.

Kolaborasi antara pedagang, konsumen, dan pemerintah diharapkan dapat menjaga keberlangsungan pasar tradisional di tengah gempuran era digital.

 

Oleh: Wihelmina Tantri, Maria Yunita Langung and  Yohanes Debrito Pati – Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris Unika St Paulus Ruteng Manggarai NTT