MANGGARAI – Ratusan warga memadati lapangan di wilayah Paroki Ngkor, Desa Bangka La’o, Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Jumat (8/5) sore.

Mereka berdatangan dari berbagai penjuru untuk menyaksikan momen bersejarah yakni kembalinya turnamen sepak bola Paroki Ngkor yang vakum lebih dari dua dekade, terakhir digelar pada 2005 silam.

Mengusung tema “Berjalan Bersama dalam Penghargaan”, ajang ini disambut antusiasme luar biasa.

Sebanyak 31 tim dari beragam latar belakang mulai perwakilan wilayah, kelompok komunitas, hingga institusi pendidikan mendaftarkan diri untuk berlaga.

Di antara peserta yang bertanding ada D Babe, Wae Ao, Persela, GCR FC, Compang Ngkor, Bayangkara, Teacher FC, SMKN Restorasi Timung, hingga Ting FC.

Kehadiran mereka menjadikan kompetisi ini bukan sekadar ajang adu ketangkasan, melainkan wadah pemersatu dan pengikat persaudaraan antar warga.

Prosesi pembukaan berlangsung meriah namun tetap khidmat. Rangkaian acara dimulai dengan baris-berbaris peserta, iringan musik marching band, menyanyikan lagu Indonesia Raya, hingga doa bersama yang dipimpin Pastor Paroki demi kelancaran dan keberkahan seluruh kegiatan.

Ketua Panitia dalam laporannya menyebut persiapan telah disusun matang, mulai dari sistem pertandingan, penyediaan hadiah, hingga dukungan penuh dari sponsor dan donatur.

“Ada 31 tim yang ikut, ini bukti nyata semangat kebersamaan di sini masih sangat kuat. Kami ingin turnamen ini jadi sarana mempererat persaudaraan, menjunjung sportivitas, serta menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat,” ujarnya dalam kesempatan itu.

Puncak acara sekaligus momen paling dinanti tiba saat Bupati Manggarai Barat dua periode sekaligus Ketua Nasdem NTT, Edistasius Endi, didaulat membuka turnamen secara resmi.

Diiringi sorak sorai gemuruh penonton, ia melangkah ke titik nol lapangan lalu melakukan tendangan perdana.

Gerakan itu menjadi tanda dimulainya seluruh rangkaian pertandingan, sekaligus bentuk dukungan nyata sosok yang dikenal berdedikasi tinggi ini terhadap dunia olahraga di tanah Manggarai Raya.

Dalam kesempatan itu, Edistasius juga menyampaikan harapan mendalamnya agar semangat olahraga menyatu erat dengan cita-cita pembangunan dan politik daerah.

Baginya, sepak bola bukan hanya urusan kemenangan di atas rumput, melainkan cerminan tata kelola, kerja sama, dan kebersamaan yang harus diterapkan dalam pemerintahan maupun kehidupan berbangsa.

“Saya berharap semangat berkompetisi, saling menghargai, dan bersatu yang kita lihat di lapangan ini bisa berpadu selaras dengan langkah politik dan kebijakan pemerintah. Olahraga dan politik sejatinya punya tujuan sama: membawa kemajuan, kesejahteraan, dan kebanggaan bagi masyarakat Manggarai Raya. Keduanya harus berjalan beriringan, saling menguatkan, demi daerah yang lebih maju dan sejahtera,” tegas Edistasius, sosok yang memiliki rekam jejak panjang di dunia pemerintahan dan politik.

Sementara itu, Ketua ASKAB Manggarai, Bona Jehadut, menilai turnamen ini punya makna jauh lebih besar daripada sekadar kompetisi. Menurut dia, ajang ini adalah kunci utama pembinaan pemain usia dini dan penggalian talenta lokal yang terpendam.

“Dari 31 tim ini, pasti ada bibit-bibit emas yang bisa kami temukan, bina, dan siapkan berkompetisi di tingkat lebih tinggi, bahkan mengharumkan nama daerah di kancah nasional,” ujar Bona, Jumat,(8/5).

 Ia menegaskan, ASKAB Manggarai siap mendukung penuh, baik lewat pembinaan teknis maupun penerapan aturan standar, agar kompetisi berjalan berintegritas, sehat, dan jauh dari perilaku negatif.

Usai penantian panjang lebih dari 20 tahun, seluruh peserta kini bersiap tampil terbaik di lapangan.

Harapannya, tradisi sepak bola di Paroki Ngkor tak hanya kembali hidup, tapi terus berlanjut, melahirkan talenta andalan, serta menjadi simbol persatuan yang kuat menyatukan semangat olahraga, kebersamaan, dan kemajuan daerah.(*)