RUTENG – Pesatnya perkembangan teknologi digital membawa angin segar sekaligus tantangan baru bagi dunia pendidikan.

Proses belajar mengajar yang dulunya serba mengandalkan buku teks dan metode konvensional, kini perlahan beralih memanfaatkan berbagai platform daring hingga kecerdasan buatan.

Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, transformasi ini menyisakan sejumlah pekerjaan rumah bagi para pendidik di lapangan.

Gabriela Rini Santur, Guru di SMK Santo Aloisius Ruteng, menilai kehadiran teknologi memberikan dampak ganda.

Di satu sisi, media pembelajaran menjadi lebih menarik dan interaktif. Namun di sisi lain, ia mengamati adanya kecenderungan siswa mencari jalan pintas yang justru merugikan proses berpikir mereka.

“Teknologi membantu kami menciptakan pembelajaran yang lebih menarik, tapi banyak siswa cenderung mencari jawaban instan tanpa memahami prosesnya. Ini tantangan serius dalam membangun kemampuan berpikir kritis,” ujar Gabriela, kepada wartawan di Ruteng, Senin,(13/4).

Menurutnya, tantangan terbesar saat ini bukan hanya soal pencapaian akademik semata, melainkan bagaimana membentengi karakter siswa.

Nilai-nilai dasar seperti disiplin dan tanggung jawab dinilai menjadi fondasi utama yang harus diperkuat agar siswa tidak terjebak dalam pola pikir serba instan.

Hal senada disampaikan Kepala SMK Santo Aloisius Ruteng, Maksimus Primus Geju. Ia menegaskan bahwa kecanggihan teknologi tidak akan mampu menggantikan peran guru sebagai pendidik utama.

Kehadiran tenaga pengajar dianggap krusial untuk mengarahkan penggunaan alat bantu tersebut agar tidak disalahgunakan.

“Guru tetap menjadi figur sentral. Keseimbangan sangat penting agar siswa mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak, bukan sebaliknya yang dikendalikan oleh teknologi itu sendiri,” tegas Maksimus.

Sementara itu, dampak negatif lain yang mulai terlihat disoroti oleh Sisilia D. Lege, Guru di SMK Swakarsa Ruteng.

Ia mengamati adanya penurunan keterampilan dasar siswa, khususnya dalam hal kemampuan menulis. Meski demikian, ia mengakui bahwa aspek visual yang ditawarkan teknologi justru mampu meningkatkan motivasi belajar anak didik.

“Keterampilan menulis siswa cenderung menurun. Namun, di sisi lain, teknologi mampu meningkatkan minat belajar melalui media visual seperti video dan animasi. Memahami gaya belajar siswa menjadi kunci agar pemanfaatannya efektif,” ungkap Sisilia.

Namun, penerapan teknologi dalam pembelajaran tidak selamanya berjalan mulus. Kepala SMK Swakarsa Ruteng, Isidorus Son, menyebutkan bahwa kesenjangan fasilitas masih menjadi kendala utama. Tidak semua institusi pendidikan memiliki akses atau perangkat yang memadai untuk menerapkan sistem yang serba digital.

“Keterbatasan fasilitas masih menjadi kendala. Tidak semua sekolah memiliki perangkat yang sama. Karena itu, penerapan teknologi harus disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing sekolah,” ujar Isidorus.

Untuk menjawab tantangan tersebut, sejumlah strategi mulai diterapkan. Pengaturan ketat penggunaan gawai di lingkungan sekolah menjadi salah satu solusi, di mana siswa hanya boleh menggunakan ponsel di bawah pengawasan guru saat jam belajar.

Selain itu, pendidik juga berupaya menciptakan suasana belajar yang lebih hidup melalui metode interaktif dan pendekatan personal.

Ke depannya, sejumlah sekolah berencana mengembangkan sistem pembelajaran berbasis daring.

Namun, langkah ini tetap akan mempertimbangkan kesiapan siswa, dukungan orang tua, serta ketersediaan infrastruktur agar tujuan pendidikan untuk mencetak generasi cerdas dan berkarakter tetap tercapai. (*)

 

Penulis: Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa Inggris Unika St. Paulus Ruteng 

1. Lifentinus Sudarso

2. Dionisia Juita

3. Ardianus Olga Lesing

4. Freonaldus Trisno

5. Arsenius Syukur

6. Aurelia Ratna Kurniati