LABUAN BAJO TERKINI — Pusat Kota Ruteng di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur telah mengalami perubahan signifikan sejak pengembangan fasilitas kawasan Natas Labar yang dimulai pada awal tahun 2024.
Inovasi seperti taman yang lebih bersih, trotoar yang lebih lebar, dan pencahayaan yang lebih baik telah meningkatkan infrastruktur dan menarik lebih banyak wisatawan.
Hal ini juga berdampak positif pada perekonomian lokal, khususnya bagi pedagang kaki lima yang bergantung pada area tersebut untuk penghidupan mereka.

Pada pertengahan hingga akhir tahun 2024, pedagang merasakan manfaat dari peningkatan fasilitas. Perubahan ini memperindah kawasan hingga membuatnya lebih nyaman bagi wisatawan, yang pada gilirannya mendorong aktivitas jual beli.
Fatmawati, seorang pedagang yang baru mulai berjualan pada April 2025, melaporkan bahwa sejak adanya Natas Labar omzet penjualannya meningkat.
“Sejak saya mulai berjualan bulan lalu, pembeli semakin banyak, terutama saat cuaca cerah,” ungkap Fatmawati, kepada media ini, Senin 12 Mei 2025.
Ia pun bercerita bahwa sisi utara Natas Labar adalah tempat paling strategis untuk berjualan. “Sekarang tempatnya jauh lebih bersih dan rapi. Orang-orang jadi betah berlama-lama karena itu.”, ungkapnya
Selain Fatmawati, Rudi, yang telah berjualan sejak Januari 2025 ikut berkomentar.
“Sejak awal tahun, penghasilan saya meningkat. Tapi masalahnya, kadang ada wisatawan mabuk yang mengganggu pembeli dan penjual,” ujar Rudi
Ia menambahkan jumlah pengunjung tidak bisa diprediksi. kadang sepi, kadang ramai. “Benar-benar soal keberuntungan dari masing-masing pedagang”, tuturnya.
Berbeda dengan Agli,yang lebih lama dari Fatmawati dan Rudy. Agil menyatakan bahwa ia tidak bisa memastikan kapan tepatnya pengembangan kawasan mulai berdampak pada penjualannya.
Namun, ia merasa bahwa keramaian saat ini membuatnya tetap semangat untuk berjualan.
“Saya tidak tahu persis kapan mulai ramai, tapi sekarang banyak anak-anak bermain dan keluarga yang datang. Itu yang membuat saya tetap bertahan,” ujarnya.
Lebih lanjut kata Agil, saat acara besar biasanya memberikan penghasilan paling tinggi. “Keramaian paling terasa saat ada acara besar. Tapi kami hanya boleh berjualan di area bawah. Kalau hujan, itu yang paling parah,” kata dia.
Para pedagang mengklaim bahwa taman utama, panggung pertunjukan, dan pintu masuk kawasan adalah tempat terbaik untuk menawarkan dagangan mereka.
Berdasarkan pengalaman para pedagang, penjualan meningkat secara langsung karena lokasi tersebut mudah diakses dan memiliki arus pengunjung yang tinggi.
Selain itu di dukung oleh lingkungan yang lebih bersih, aman, dan tertata rapi dan tentu mendatangkan kenyamanan pengunjung untuk datang berbelanja.
Meskipun ada manfaat yang jelas, para pedagang tetap menghadapi beberapa tantangan.
Salah satu kekhawatiran utama adalah kemungkinan diberlakukannya biaya sewa lapak. Selain itu, beberapa pedagang mengeluhkan adanya tamu mabuk yang mengganggu, sehingga terkadang menciptakan suasana yang tidak nyaman.
“Kami khawatir nanti akan ada biaya sewa lapak. Saat ini memang belum ada, tapi kami butuh kejelasan,” timpal Fatmawati.
Ia pun menyampaikan keluhan para pedagang yang menginginkan adanya pengawasan yang lebih baik untuk menjaga keamanan dan ketertiban.
“Kami berharap pemerintah bisa meningkatkan pengawasan di sini, terutama pada malam hari.”kata dia
Untuk tetap kompetitif, para pedagang beradaptasi dengan memperluas variasi produk, meningkatkan kualitas layanan, dan melakukan promosi di media sosial.
Karena jumlah pengunjung yang ramai, malam hari menjadi waktu terbaik untuk berjualan, sementara para pedagang mengakui bahwa acara-acara besar biasanya memberikan keuntungan paling tinggi.
“Acara besar benar-benar mendatangkan banyak pengunjung dan keuntungan lebih tinggi.” tutup Agil.
Oleh: Krisna Yonita Sari, Fridus Fasi, Krista Felisarti Lensi, Gerasmus Pocesarno – Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris Unika St Paulus Ruteng Manggarai NTT










1 Komentar
Bagus e