LABUAN BAJO – Tim Pencarian dan Pertolongan (SAR) gabungan berhasil menyelamatkan dan mengevakuasi 23 penumpang KM Hinaya dalam keadaan selamat.

Kapal pengangkut penumpang itu mengalami kerusakan mesin hingga mati total, lalu terombang-ambing diterjang gelombang di perairan antara Pulau Batu Tiga dan Pulau Siaba, kawasan Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, Rabu (13/5).

Kepala Kantor SAR Maumere sekaligus Koordinator Misi SAR, Fathur Rahman, menjabarkan kronologi kejadian berdasarkan laporan yang masuk ke Pusat Komando SAR. Insiden bermula pukul 14.00 WITA, saat KM Hinaya berangkat dari Pelabuhan Pulau Komodo menuju Pelabuhan Marina Labuan Bajo.

“Saat melintasi perairan di antara Pulau Batu Tiga dan Pulau Siaba, kapal tiba-tiba mengalami kerusakan mesin hingga mati total. Kondisi sangat diperparah dengan gelombang tinggi yang terus menghantam badan kapal, sehingga kapal menjadi tidak terkendali dan terombang-ambing tak berdaya di tengah laut,” ungkap Fathur dalam keterangan resminya.

Data resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang mengonfirmasi, kondisi laut saat kejadian memang tergolong ekstrem.

Berdasarkan prakiraan nomor B/ME.01.02/WP/12/KTUG/V/2026 yang berlaku 13 Mei pukul 08.00 hingga 14 Mei 07.00 WITA, pada rentang waktu 14.00–16.00 WITA, angin bertiup kencang dari arah Tenggara hingga Timur dengan kecepatan 12–14 knot, disertai hembusan angin kencang (wind gust) mencapai 16–19 knot.

Kondisi itu memicu ketinggian gelombang signifikan mencapai 0,90–1,00 meter, ditambah arus permukaan yang cukup deras yakni 3,00 knot bergerak ke arah Barat Daya. Kombinasi angin kencang, gelombang, dan arus kuat inilah yang membuat kapal sulit dikendalikan begitu mesin berhenti beroperasi.

Mendapat laporan darurat, Tim SAR Gabungan segera dikerahkan ke lokasi. Namun berkat respon cepat potensi SAR di sekitar, proses penyelamatan sudah berlangsung saat tim tiba.

“Sepanjang perjalanan, kami dapat informasi dari Potensi SAR milik PT Palma Hijau Cemerlang (PHC) bahwa evakuasi sudah dilakukan. Sebanyak 8 penumpang diselamatkan RIB Tim PHC, dan 12 penumpang lainnya ditolong awak Kapal Raja Manta yang kebetulan berlayar di situ. 23 orang akhirnya dikumpulkan dan dievakuasi aman kembali ke Pelabuhan Komodo,” lanjut Fathur.

Ia menilai keberhasilan ini adalah bukti nyata kekuatan sinergi kemanusiaan di Labuan Bajo. Respon cepat, kerja sama antar lembaga, dan kepedulian awak kapal lain menjadi kunci keselamatan nyawa para penumpang.

“Kejadian ini membuktikan operasi SAR di sini bergerak atas dasar niat tulus kemanusiaan. Berkat kerja sama Tim PHC, awak Kapal Raja Manta, dan tim SAR gabungan, seluruh nyawa terselamatkan. Kami berharap sinergitas ini terus terjaga,” tandasnya.

Sementara itu, BMKG dalam laporan yang berlaku hingga 16 Mei 2026 memperingatkan, perairan Komodo masih bergejolak. Meski kecepatan angin diprediksi melemah jadi 2–8 knot pada 15–16 Mei, ketinggian gelombang justru naik mencapai 1,30–1,60 meter dengan arus permukaan yang tetap kuat.

Melalui Prakirawan Otniel Tino Jawa Nduruk, BMKG mengimbau seluruh nahkoda dan pengelola kapal untuk rutin memantau info cuaca maritim, memastikan kelayakan teknis kapal, serta menaati standar keselamatan pelayaran guna mencegah kejadian serupa terulang..