LABUAN BAJO TERKINI–Pasca menjalani amputasi pada kaki bagian kiri akibat penyakit tumor ganas yang dideritanya, Afrianus Ronal (10) siswa kelas 5 Sekolah Dasar, warga Wangkung, Desa Pota, Kecamatan Boleng, Manggarai Barat ini harus mengalami cobaan yang cukup berat dalam hidupnya.
Karena keterbatasan ekonomi, Afrianus sangat membutuhkan uluran tangan dari dermawan untuk biaya kelanjutan pengobatannya.
Afrianus memiliki seorang adik laki-laki. Keduanya ditinggalkan oleh orang tua mereka Sirilus Jehasa dan Elisabet Seinda. Orang tua mereka pasca meninggal dunia disaat Afrianus dan adiknya sangat membutuhkan kasih sayang.
Ayahnya meninggal pasca Afrianus berumur 6 tahun, sedangkan ibunya meninggal selang dua tahun setelah adik laki-lakinya lahir. Ia bersama adiknya diasuh oleh Kakek dan Nenek mereka, Tarsisius Panda dan Martina Gima.
Awal mula tumor ganas menyerang kaki kiri Afrianus disaat ia sedang bermain bola bersama teman-temannya. Kala itu, Afrianus tergelincir membuat kaki kirinya keseleo.
Pada bulan September 2024 lalu, ia mengalami cendera lutut yang parah membuatnya harus absen dari sekolah.
Afrianus dikenal sebagai sosok anak yang semangat, ia menyimpan duka dan kesakitannya. Ia memaksakan dirinya untuk kembali mengangkat kaki kirinya beranjak ke sekolah.
Hingga suatu hari, bocah malang ini kembali jatuh membuat lutut kirinya semakin bengkak.
Pada tanggal 14 Januari 2025, Paman Afrianus, Albertus, membawanya ke rumah sakit Siloam Labuan Bajo untuk mendapatkan perawatan medis.
Dokter pun mengambil tindakan dengan menyedot darah kotor pada lutut Afrianus. Hingga pada tanggal 16 Februari, dirinya diizinkan pulang oleh dokter.
Dirinya pun akhirnya kembali harus bolak-balik masuk rumah sakit, hingga pada tanggal 27 Februari lalu dokter mengambil keputusan untuk melakukan amputasi.
Kini, bocah yatim piatu itu tak hanya kehilangan kedua orang tuanya, tetapi kaki kirinya juga. Di ranjang operasi, Dirinya selalu menengadah pasrah, seolah-olah ia tak punya harapan lagi untuk hidup.
Namun, karena kasih sayang orang terdekatnya, Afrianus kembali kuat. Ia pasrah, ia harus kehilangan kaki kirinya. Ia begitu kuat, tak mau meninggalkan adiknya untuk melalui hidup sendirian. Setelah melakukan amputasi, pada tanggal 4 Maret, Afrianus diizinkan pulang.
Kini, keluarga yang penuh kekurangan itu tak hanya dilanda duka, mereka tak tahu bagaimana melanjutkan perjuangan Afrianus. Hingga pada suatu hari, Paman Afrianus, Albertus mencoba memberanikan diri untuk mengetuk pintu hari para dermawan.
“Keluhan kami sekeluarga yang merawatnya, kan kalau nanti rawat di rumah semua peralatan rumah sakit tentunya kami harus butuh biaya dan kalau sampai di rumah BPJS tidak berlaku lagi maka perawatannya harus membutuhkan biaya dari keluarga,” keluh Albertus, Minggu (9/3/2025) di Labuan Bajo.
Ia menjelaskan bahwa saat ini keluarga sementara merencanakan pertemuan untuk mengajukan permohonan bantuan biaya perawatan kepada pemerintah daerah melalui Dinas Sosial.
“Kami ada rencana buat pertemuan dengan keluarga supaya hal ini kami laporkan ke dinas sosial karena memang benar sekali kami butuh biaya untuk proses penyembuhan anak kami ini dan perlengkapan lain yang dia butuhkan agar dia bisa berjalan,” jelasnya.
Dirinya berharap pemerintah daerah bisa mendengar keluh kesah keluarganya itu.
“Harapannya kalau nanti kami ajukan ke pihak pemerintah mudah-mudahan pemerintah bisa dengar keluh kesa kami masyarakat,” harapnya.
Bagi siapa saja yang menaruh ibah dan mau meringankan beban Alfrianus, pihak keluarga memohon kesediaan hati untuk menyalurkan bantuannya melalui nomor Rekening BRI 472801007007530, atas nama Yanuarius Nantar Gambur.











Tinggalkan Balasan