LABUAN BAJO– Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo menggelar sosialisasi dan rapat koordinasi bersama sejumlah desa mitra di Kabupaten Manggarai untuk mencegah tindak pidana perdagangan orang (TPPO) dan penyelundupan manusia (TPPM).
Kegiatan yang digelar pada hari Rabu (4/3) di Ruteng ini juga bertujuan memperluas jangkauan layanan imigrasi hingga ke komunitas pedesaan.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Labuan Bajo, Charles Christian Mathaus, yang menegaskan komitmen lembaga untuk memberikan layanan yang terbuka, transparan, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat luas.
Pencegahan Adalah Tanggung Jawab Bersama
“Kegiatan ini dirancang untuk memastikan bahwa layanan imigrasi tidak hanya tersedia di kantor kami, tetapi juga menjangkau masyarakat pedesaan secara langsung. Pencegahan perdagangan dan penyelundupan manusia bukan hanya tugas aparat, melainkan tanggung jawab bersama seluruh komponen masyarakat,” ujar Charles Christian Mathaus dalam keterangan tertulisnya yang diterima Labuan Bajo Terkini, Kamis, (5/3) Siang.
Ia menambahkan bahwa kerja sama dengan Komisi HAM Wilayah NTT, serta Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, Koperasi dan UKM Kabupaten Manggarai, menjadi fondasi penting dalam mengatasi permasalahan tersebut. Kolaborasi lintas lembaga ini diharapkan dapat memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kasus yang mungkin muncul.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Manggarai, Frederikus Inasius Jenarut, menyampaikan
perbedaan TPPO dan TPPM, serta dampak yang ditimbulkan bagi korban dan masyarakat luas.
Ia juga menguraikan tanda-tanda bahaya yang perlu diwaspadai agar masyarakat tidak terjebak dalam praktik perdagangan orang atau menjadi korban penyelundupan.
Selanjutnya, perwakilan dari Komisi HAM Wilayah NTT, Hironimus Sentosa, membahas persoalan perdagangan manusia dari perspektif hak asasi manusia.
Ia menekankan bahwa perdagangan manusia merupakan pelanggaran berat terhadap martabat dan hak asasi manusia, yang membutuhkan tanggapan serius dari semua pihak.
Kegiatan diikuti oleh perwakilan dari desa-desa mitra seperti Desa Wae Ri’i, Belang Turi, Wae Ajang, Lando, dan Papang.
Para peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam mengikuti setiap sesi yang disampaikan.
Dua mahasiswi dari Politeknik El Commudus Labuan Bajo yang mengikuti acara menyampaikan harapan agar sosialisasi serupa terus digelar secara berkelanjutan, terutama di daerah-daerah terpencil di Manggarai.
Menurut mereka, edukasi yang berkelanjutan sangat penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya perdagangan dan penyelundupan manusia.











Tinggalkan Balasan