LABUAN BAJO TERKINI – Sebanyak 5 orang siswi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Boleng, Kecamatan Boleng tampil memukau membawakan Tari Rangkuk Alu pada perayaan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Ke-66 tingkat Kabupaten Manggarai Barat yang berlangsung di lapangan sepak bola SMAK St. Ignatius Loyola, Labuan Bajo, Sabtu (3/5/2025).
Plt. Kepala Sekolah SMKN 1 Boleng, Pius Pesau yang membawa anak asuhnya tampil pada kegiatan itu menyampaikan terima kasihnya kepada Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Kabupaten Manggarai Barat karena telah menyiapkan kegiatan yang spektakuler tersebut.
Dengan waktu latihan yang sangat singkat untuk mempersiapkan penampilan mereka di Hardiknas Ke-66, siswi SMKN 1 Boleng dianggap berhasil membawakan Tari Rangkuk Alu mengangkat tarian tradisional Manggarai Flores.
“Luar biasa anak-anak kami ini dengan durasi latihan yang singkat tapi hasilnya sangat bagus. Terimakasih kepada Pemprov NTT dan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat yang telah menyiapkan kegiatan ini,” kata dia ditemui waratawan, Sabtu (3/5).
Ditanya terkait alasannya mengangkat Tari Rangkuk Alu, Pius menjelaskan bahwa tarian tradisional masyarakat Manggarai Folres sangat pas diangkat dalam perayaan hari besar seperti Hardiknas.
Menurutnya dengan penampilan tarian itu secara tidak langsung telah mengajarkan pada generasi muda untuk selalu mempertahankan dan melestarikan tarian tradisional.
Ia berujar bukan dalam segala hal harus mengikuti zaman, tarian tradisional seperti Rangkuk Alu salah satu warisan nenek moyang suku Manggarai dari sekian banyak tarian yang harus dilestarikan secara turun temurun.
“Nenek moyang kita turunkan kepada kita tarian ini dan itu yang harus kita lestarikan. Bukan bermaksud tidak mengikuti zaman, akan tetapi harus diimbangi dengan tetap mempertahankan apa yang menjadi budaya kita sebagai orang Manggarai,” jelasnya.
Lebih lanjut mantan guide itu menyoroti pentingnya penguatan identitas budaya dalam sektor pariwisata seperti Labuan Bajo yang kini dinobatkan sebagai salah satu Daerah Pariwisata Super Prioritas (DPSP) di Indonesia.
“Pariwisata punya nilai lebih atau mau hidup itu ketika kita angkat tarian yang tradisional,” ujarnya.
“Animo orang asing tinggi sekali dengan budaya kita. Mereka suka dengan tarian-tarian tradisional jika mereka berwisata di daerah kita ini,” pungkasnya.
Sejarah Tari Rangkuk Alu
Dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat, Tari Rangkuk Alu ini awalnya merupakan sebuah permainan tradisional masyarakat Manggarai Folres-meliputi tiga Kabupaten, Manggarai, Manggarai Barat dan Manggarai Timur. tarian ini sering ditampilkan pada saat usai panen raya dan pada saat bulan purnama.
Disaat itulah para remaja berkumpul dan juga meramaikan acara ini. Secara etimologis, Rangkuk Alu adalah kata bahasa Manggarai yang terdiri dari dua kata, yaitu rangkuk dan alu.
Alu adalah sebatang kayu dengan panjang 2 meter yang digunakan sebagai alat penumbuk padi. Sedangkan kata rangkuk adalah suara atau bunyi irama dari alu yang saling dibenturkan sehingga manghasilkan keharmonisan bunyi dengan nada dan tempo tertentu.
Pemain Rangkuk Alu dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok yang bermain dan kelompok yang berjaga. Kelompok yang berjaga terdiri dari empat sampai enam bertugas menggerakkan bambu yang disusun membentuk persegi.
Kemudian, setiap yang berjaga akan jongkok atau duduk dengan memegang dua ujung bilah bambu. Kelompok yang mendapat giliran untuk bermain akan melompat di sela-sela bambu dan menghindari jepitan bambu.
Terdapat satu sampai empat orang yang mendapat giliran bermain. Penari Rangkuk Alu menggunakan baju adat khas Manggarai saat yakni baju bero, ikat kepala, dan songket khas Manggarai.
Penari akan diiringi dengan irama musik seperti gendang dan gambang dipadukan dengan irama ketukan buka tutup bilah bambu. Penari akan melakukan gerakan seperti halnya permainan Rangkuk Alu untuk menghindari ketukan dari pemegang bambu.
Tari Rangkuk Alu dimainkan oleh masyarakat untuk merayakan hasil panen pertanian dan perkebunan. Permainan itu adalah ekspresi rasa syukur dan bahagia atas rezeki yang telah diberikan sang Maha Kuasa.
Bagi suku Manggarai, tarian ini juga memiliki nilai spiritual dan filosofis. Tarian ini wujud syukur terhadap Tuhan atas hasil panen yang berhasil diperoleh.











Tinggalkan Balasan