LABUAN BAJO TERKINI – Umat katolik Stasi Sewar, Paroki Datak Manggarai Barat merindukan tempat ibadah yang layak sebagai sarana untuk berdoa setiap hari Minggu. Sayangnya, keinginan itu sempat terpendam karena tidak ada biaya untuk membangun gereja.

Barulah pada tahun 2020 lalu, sekelompok anak muda berinisiatif membentuk kepanitiaan untuk pembangunan gereja secara mandiri. Hasilnya pada pertengahan tahun 2022 mereka sudah bisa mulai melakukan pembangunan.

Umat Katolik Stasi Sewar Gotong-royong Bangun Gereja, Berharap Ada Bantuan
Umat Katolik Stasi Sewar Gotong-royong Bangun Gereja, Berharap Ada Bantuan – Foto: Alfee

“Kami berdiskusi menginisiasi pembangunan Kapela Stasi Sewar ini. Kami berdiskusi dengan pastor paroki, ketua dewan stasi dan pemerintah desa. Sejak it semua pihak mendukung,” ungkap Bonaventura selaku salah satu pengurus dalam kepanitiaan, Jumat 01 Agustus 2025.

Bonaventura mengatakan, pembangunan yang dilakukan selama ini berkat semangat gotong royong seluruh umat. Kerinduan akan adanya tempat ibadah yang layak membangkitkan semangat para umat untuk giat bekerja.

“Setelah kami dibentuk, kami memanfaat kesempatan liga Europa tahun 2021. Kami bikin nobar selama satu bulan untuk penggalangan dana. Setelah ada sedikit dana, anak muda-mudi kemudian ke kali untuk menggali pasir,” jelasnya.

Berkat kerja sama antar seluruh umat, muda-mudi dan pengurus gereja, Kapela Stasi Sewar kemudian sukses melakukan peletakan batu pertama pada awal tahun 2022.

Namun hingga pertengahan tahun 2025 ini, pembangunan Kapela Stasi Sewar hanya menunjukkan sedikit progresivitas. Hal itu tidak terlepas dari keterbatasan dana yang dimiliki. Karena itu, Bonaventura berharap ada sentuhan tangan kasih dari pihak-pihak tertentu.

“Kami mohon kepada keluarga atau donatur yang ingin membantu kami dengan mengirim bantuannya melalui rekening panitia 472801017015531 atas nama Kapela Stasi Sewar serta melakukan konfirmasi ke bendahara panitia dengan nomor kontak 081354575646,”

Sebagai informasi, Stasi Sewar dimekarkan pada tahun 2025 lalu. Sejak saat itu, umat hanya memanfaatkan rumah atau gedung sekolah untuk beribadah. Sebelumnya pada tahun 2019 sempat mendirikan gereja darurat dari bambu dengan atap ijuk. Namun tak lama kemudian roboh karena dihantam angin puting beliung.