LABUAN BAJO – Dinas Pariwisata Ekonomi Kreatif dan Kebudayaan (Disparekrafbud) Manggarai Barat, NTT, berencana mengalokasikan dana APBD II sebesar Rp.70 juta yang berasal dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) ke rekening sepuluh kelompok UMKM lokal yang telah diberikan bimbingan.

Sebelum proses ini dilakukan, semua pelaku usaha mikro kecil dan menengah diundang untuk mendapatkan penjelasan mengenai manfaat dan penggunaan dana tersebut.

“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan fasilitas pendanaan dan pembiayaan. Ini merupakan salah satu inisiatif dari Dinas Parekrafbud Manggarai Barat untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif dan telah berlangsung selama beberapa tahun. Kali ini, kami menargetkan sepuluh kelompok UMKM lokal,” kata Kepala Dinas Parekrafbud Manggarai Barat, Stefanus Jemsifori, melalui Sekretaris Dinas, Krispin Mesima, di Hotel RD Hotel Resto & Family, Labuan Bajo, pada Rabu (5/11/2025).

Krispin menjelaskan bahwa bantuan ini bertujuan untuk mendukung permodalan kelompok UMKM dan akan ditransfer langsung kepada para penerima manfaat.

Adapun kelompok UMKM yang menjadi sasaran bantuan mencakup kelompok kreatif, kuliner, kerajinan tangan, hingga pedagang kopi, dengan nominal bantuan bervariasi per kelompok.

Selain memberikan modal, Dinas Parekrafbud juga berencana untuk memfasilitasi proses Hak atas Kekayaan Intelektual (HaKI) untuk masing-masing produk dari kelompok UMKM tersebut.

“Kami akan membantu dalam pendaftaran Hak Kekayaan Intelektual untuk merek dagangan mereka. Ini telah kami lakukan selama dua tahun terakhir bekerja sama dengan Kemenkum, dan sekitar 100 UMKM lokal telah terdaftar hingga saat ini,” tambahnya.

Krispin berharap bahwa kelompok UMKM yang dibina oleh Disparekrafbud Manggarai Barat dapat saling bekerja sama dengan baik, terutama dalam mengelola dana bantuan yang diberikan pemerintah.

Disparekrafbud Manggarai Barat Siapkan Anggaran  Rp 70 Juta  Untuk Modal UMKM 
Maria Goreti Jaimun Datang (Salah Satu Peserta UMKM) – Foto: Louis Mindjo

Maria Goreti Jaimun Datang, yang mengelola kelompok UMKM di bidang kuliner, mengungkapkan rasa senangnya atas bantuan modal usaha ini.

“Saya berasal dari Mbeliling Rangga Watu, Desa Golo Desat. Bantuan dan kegiatan seperti ini sangat penting bagi saudara-saudara kami di Mbeliling dan sekitarnya. Permasalahan utama bagi pelaku UMKM di desa adalah kurangnya modal untuk memproduksi barang,” ujarnya.

Banyak potensi yang bisa dikembangkan oleh pelaku UMKM di desa, seperti membuat jamu temulawak, kunyit, dan serai. Namun, keterbatasan modal membuat mereka kesulitan untuk membeli alat pengemas produk tersebut.

Maria Goreti juga berharap pemerintah memberikan akses bagi kelompok UMKM lokal untuk menitipkan produk mereka di beberapa lokasi strategis di Labuan Bajo.

Sejak tahun 2022, Maria menyatakan bahwa ia belum menemui masalah signifikan dalam mengelola usaha kulinernya.

“Kami memiliki jaringan untuk menitipkan produk seperti keripik. Produk keripik kami sangat cocok jika dititipkan di kafe dengan live music karena cepat terjual,” katanya.

Maria juga berbagi pengalaman tentang menitipkan keripik singkong miliknya di sebuah bar yang ramai dikunjungi wisatawan di Labuan Bajo.

“Saya menyerahkan produk saya pada Jumat sore, dan pada hari Senin, semua keripik itu sudah laku terjual sebanyak 100 bungkus, berkat ada live music di bar tersebut,” tutupnya.