LABUAN BAJO – Perseteruan antara Marsel Agot dengan tiga karyawan penjaga tanah milik Alosius Oba di kawasan tanah Batu Gosok, Kelurahan Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, terus berlanjut.

Para penjaga tanah membuka suara setelah Pater Marsel memberikan klarifikasi melalui sejumlah media.

Simon Jeriki atau akrab disapa John mengaku menerima ancaman dari Marsel Agot saat mendatangi lokasi tanah milik Alo Oba pada Kamis (26/1/2026),lalu

Keterangan ini disampaikannya kepada awak media di Labuan Bajo pada Minggu (1/02), malam.

“Pater Marsel datang ke lokasi bersama sejumlah orang dari kampung, membawa parang, lalu memasang pilar di sana,” ujar John saat diwawancarai.

Menurut John, awalnya ia dan rekannya tidak mengganggu ketika Marsel beserta rombongannya memasang pilar karena menganggap hal itu hanya sebatas klaim atas tanah.

Namun kemudian, John meminta agar tidak dilarang memasang patok atau spanduk di lokasi yang sama karena kawasan tersebut adalah tanah milik Alo Oba yang sedang mereka jaga.

“Saya bilang, ‘Pater sudah tanam patok kami tidak cegat, jadi giliran saya mau pasang spanduk’. Tapi dia bilang tidak boleh, mulai dari situ nada suaranya jadi keras,” ungkap John.

John menambahkan, Pater Marsel kemudian menyampaikan ancaman yang menyebutkan agar Alo Oba datang langsung ke lokasi tanah Batu Gosok.

“Dia bilang, ‘biar Alo Oba datang ke sini, ini namanya purak mukang wajo kampong’ – artinya serang dan kepung markas,” kata John menirukan ucapan Pater Marsel dalam bahasa Manggarai.

John mengaku menyampaikan kepada Pater Marsel bahwa klaim sebagai pemilik tanah tersebut belum jelas. Ia juga menyarankan agar Pater menghubungi tim hukum Alo Oba yang nomor dan namanya tertera di spanduk yang sudah dipasang di lokasi.

“Saya bilang, ‘salah satu jalan ada nomor tim hukum, silakan hubungi nomor tim hukum Alo Oba’,” ujarnya.

Ia juga mengungkapkan bahwa saat pertama kali datang, Pater Marsel menunjuk kawasan yang sedang dia jaga sebagai tanah miliknya. “Saya tanya, ‘tanahnya Pater di mana?’ Dia tunjuk yang ini – tanah yang saya jaga, bukan pondik sebelah jalan. Menurut saya, tanah itu milik Alo Oba, dan Pater tidak pernah jelaskan secara jelas bahwa ini tanahnya,” jelas John.

Siprianus Transurdi, salah satu karyawan Alo Oba lainnya, menegaskan bahwa keterangan John benar adanya. Menurutnya, Pater Marsel memang menyampaikan ancaman pada saat itu.

“Memang ada ancaman, dia bilang, ‘mana Alo Oba suruh ke sini? Kalau tidak, kita panggil lagi masa dari kampung. Biar kita mati sini, kami tidak takut’,” ujar Siprianus.

Hal serupa juga disampaikan Mansur, penjaga tanah lainnya. Ia mengaku mendengar langsung ancaman dari Pater Marsel dengan nada suara yang tinggi.

“Dia bilang, ‘mana Alo Oba suruh ke sini? Biar kita mati di sini saja. Ini namanya purak mukang wajo kampong’,” kata Mansur menegaskan.

Sebelumnya, Marsel Agot mengeluarkan klarifikasi resmi sekaligus bantahan keras terhadap pemberitaan media daring BAJO PEDIA yang diterbitkan pada 27 Januari 2026. Berita berjudul “Pater Marsel Agot pimpin masa bawa parang, anak buah Alo Oba ketakutan dan memilih pulang” dinyatakannya sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan, menyesatkan publik, hingga termasuk dalam kategori fitnah dan pencemaran nama baik.

“Isi berita itu benar-benar tidak ada dasarnya. Ini bukan hanya menyalahkan saya secara pribadi, tapi juga bisa mengganggu ketertiban dan menciptakan kesalahpahaman di masyarakat,” ucap Pater Marsel dalam keterangan tertulis yang disampaikan di Labuan Bajo, Sabtu (31/1/2026).

Hanya Bekerja, Tidak Ada Niat Kekerasan

Pater Marsel menjelaskan, pada hari Selasa (27/O1) sekitar pukul 16.00 WITA, ia bersama 16 karyawan Yayasan Prundi datang ke lahan yang menjadi milik yayasan.

Tujuan mereka adalah melakukan pekerjaan pemasangan pilar dan pembuatan pagar batas tanah.

“Kehadiran kami hanya untuk urusan kerja saja. Tidak ada sedikit pun niat untuk melakukan konfrontasi, intimidasi, atau apalagi kekerasan seperti yang digambarkan di berita itu,” tegasnya.