LABUAN BAJO – Pariwisata DPSP Labuan Bajo masih menghadapi tantangan ketimpangan, di mana sekitar 95% kunjungan wisatawan terpusat pada sektor bahari dengan 78% di antaranya merupakan wisatawan asing.
Hal itu muncul dalam diskusi bertajuk “Sunset Talk: Dari Labuan Bajo untuk Dunia” yang digelar RRI SP Labuan Bajo pada Minggu (29/3) sore hari, yang menghadirkan berbagai pihak terkait mulai dari pemerintah daerah hingga pelaku industri kreatif lokal.
Sekretaris Daerah Kabupaten Manggarai Barat, Fransiskus Sales Sodo, atau kerap disapa Hans, menjelaskan bahwa pengelolaan Labuan Bajo yang mencakup Taman Nasional Komodo memang membutuhkan sinkronisasi kebijakan yang matang.
“Kami sedang menyusun aplikasi SIORA yang diintegrasikan dengan aplikasi daerah ‘Gendang Mabar’ untuk memperbaiki sistem reservasi dan pengawasan,” ungkap Sekda Hans.
Meski telah mendapatkan pengakuan internasional dengan dinobatkannya TN Komodo sebagai tempat terindah nomor dua di dunia oleh majalah Time Out, Plt. Direktur Utama BPOLBF, Andi MT Marpaung, menegaskan perlunya diversifikasi produk wisata agar tidak hanya bergantung pada keindahan alam bahari.
“Budaya dan kearifan lokal harus dinaikkan sebagai pembeda. Kami juga membina sanggar seni dan UMKM agar bisa mandiri secara bisnis,” jelas Andi di acara itu.
Beragam harapan dan usulan juga dilontarkan oleh para pelaku industri kreatif lokal yang mengungkapkan kebutuhan akan dukungan yang lebih nyata.
Pemilik Komabi, Rino, menginginkan adanya regulasi yang mewajibkan penggunaan produk lokal di hotel beserta standarisasi harga yang jelas.
Sementara itu, influencer lokal Suci Maria menekankan pentingnya story telling yang datang langsung dari orang lokal.
“Saat ini lebih banyak orang luar yang bercerita tentang Labuan Bajo daripada orang lokal sendiri. Kita tidak boleh lagi hanya menjual keindahan, tapi harus menjual cerita dan makna,” ucap Suci yang juga mengajak agar pemerintah melibatkan kreator konten sejak awal proses perencanaan.
Tak hanya itu, Ibu Kendy dari IWAPI mengingatkan agar pemerintah tidak mengabaikan investasi di sektor wisata darat.
“Wisata bahari dan darat adalah pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Jika terlalu fokus di laut, saat musim barat tiba dan laut tidak bisa diakses, ekonomi kita akan tidur panjang. Fasilitas darat seperti Mawatu dan Parapuar harus terus digenjot,” tandasnya.
Bahkan, drg. Idam, pemenang lomba Komodo Tawa Season 2, mengusulkan konsep baru berupa Dental Tourism yang berpotensi besar.
“Di Bali, turis bisa berobat sambil berwisata. Di Labuan Bajo, dengan biaya medis yang jauh lebih terjangkau dibanding Australia misalnya, ini bisa menjadi sumber PAD yang besar jika diregulasi dan dikerjasamakan dengan klinik serta agen perjalanan secara profesional,” ungkapnya.
Ketua Stand Up Indo Labuan Bajo, Koko Ama, juga menyampaikan kondisi nyata yang dihadapi komunitas kreatif lokal.
“Faktanya, pihak luar atau EO internasional lebih menghargai nilai (value) karya kami dibandingkan pihak lokal. Kami butuh dukungan fasilitas dan ruang ekspresi yang lebih luas agar industri kreatif ini bisa tumbuh seiring dengan label pariwisata super premium,” tambahnya.
Acara yang diisi dengan berbagai pemaparan dan diskusi ini ditutup dengan sesi foto bersama dan penyerahan merchandise lokal sebagai simbol komitmen bersama untuk memajukan Labuan Bajo melalui kolaborasi lintas sektor yang lebih inklusif.











Tinggalkan Balasan