LABUAN BAJO TERKINI – Kenaikan harga pupuk sejak tahun 2018 di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, mulai dirasakan dampaknya oleh para petani. Harga pupuk yang meningkat hingga 25 persen menyebabkan para petani kesulitan memenuhi kebutuhan pupuk secara optimal, yang berujung pada penurunan hasil panen.
Anggalinus Genggot, seorang petani asal Lempe, menyampaikan bahwa sebelum harga pupuk naik, ia menggunakan empat karung pupuk untuk mengelola lahan seluas 0,5 hektare. Namun, akibat kenaikan harga, ia kini hanya mampu membeli satu karung pupuk untuk lahan yang sama.
“Dulu, dengan 0,5 hektare saya butuh empat karung pupuk. Sekarang hanya mampu satu karung saja karena mahal. Ini sangat berpengaruh pada hasil panen kami,” ujarnya kepada media ini, Selasa (13/5/2025).
Menurut Anggalinus, meskipun pemerintah telah menyalurkan pupuk subsidi, akses terhadap pupuk tersebut masih terbatas. Ia bahkan harus meminjam pupuk dari warga lain yang tidak menggunakannya untuk mencukupi kebutuhan.
Kristoforus Nakul, staf Bidang Peralatan dan Mesin pada Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai, menjelaskan bahwa pupuk subsidi hanya diberikan kepada petani yang telah terdaftar dalam aplikasi RDKK (Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok).
“Petani yang sudah terinput dalam sistem RDKK akan mendapatkan haknya atas pupuk subsidi,” jelas Kristoforus.
Ia menambahkan, untuk menghindari kelangkaan pupuk subsidi, pemerintah melalui Dinas Pertanian melakukan pengawasan rutin bersama Komisi Pengawasan Pupuk (KPP) dan tim VERVAL (Verifikasi dan Validasi).
“Pengawasan dilakukan setiap bulan pada tanggal 1 hingga 10 di tingkat pengecer resmi”, kata Kristoforus.
Sementara itu, Baltasar Damang, Kepala Bidang Alat dan Mesin Pertanian, Pupuk dan Pestisida, serta Penanganan Bencana Alam pada Dinas Pertanian Kabupaten Manggarai, menjelaskan bahwa pemerintah terus melakukan penyuluhan kepada petani agar tidak bergantung sepenuhnya pada pupuk anorganik.
“Kami mendorong petani menggunakan pupuk organik karena lebih ramah lingkungan. Pupuk organik menjaga kelestarian tanah dan mendukung pertumbuhan biota tanah yang bermanfaat,” ujar Baltasar.
Ia juga memastikan bahwa harga pupuk subsidi di Ruteng saat ini telah sesuai dengan ketetapan pemerintah, dan pemerintah daerah terus berkoordinasi agar harga tetap stabil.
Untuk informasi, kenaikan harga pupuk yang terjadi sejak 2018 memberikan dampak signifikan terhadap produktivitas pertanian di Ruteng.
Walaupun pemerintah telah menyalurkan pupuk subsidi dan melakukan pengawasan distribusi secara berkala, keterbatasan akses dan kemampuan petani untuk membeli pupuk tetap menjadi tantangan.
Dinas Pertanian pun mendorong solusi jangka panjang melalui pemanfaatan pupuk organik untuk menjaga keberlanjutan pertanian dan kelestarian lingkungan.
Oleh: Trifonia Hayati, Klemensiana Ewin dan Eugenius Joy Darmawan – Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris Unika St Paulus Ruteng Manggarai NTT











Tinggalkan Balasan