LABUAN BAJO – Kru kapal wisata di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT) kini tidak perlu lagi pergi ke luar daerah untuk mendapatkan sertifikat medis dan mengikuti pelatihan kompetensi.

Keberadaan layanan langsung di kawasan wisata bahari di ujung barat Pulau Flores itu diharapkan mempermudah akses sekaligus meningkatkan standar keselamatan pelayaran.

Sebelumnya, proses sertifikasi harus dilakukan di Bali atau Surabaya, yang membuat ribuan pelaut di Labuan Bajo dan sekitarnya harus mengeluarkan biaya tambahan serta menghabiskan waktu lebih lama.

“Selama ini kami terkendala harus pergi ke Bali atau Surabaya untuk mengurus sertifikat. Namun mulai tahun ini, sudah ada rumah sakit di Labuan Bajo yang bekerja sama untuk mendukung peningkatan kompetensi kru kapal,” ungkap Ketua Forum Komunikasi Keagenan Kapal Labuan Bajo (FOKAL), Sumarlin, kepada Labuan Bajo Terkini, Rabu (18/2) malam.

Dia menjelaskan bahwa kemudahan layanan lokal tidak hanya menyederhanakan proses administrasi, tetapi juga meningkatkan efisiensi kerja dan mendorong kepatuhan terhadap standar keselamatan.

Selain bekerja sama dengan rumah sakit, FOKAL juga menjalin kerjasama dengan lembaga pendidikan pelayaran untuk memperdalam pemahaman kru mengenai tugas dan tanggung jawab di atas kapal.

FOKAL juga berkoordinasi dengan otoritas Perhubungan Laut terkait penerbitan sertifikat medis pelaut, serta membentuk grup digital untuk mempercepat penyebaran informasi regulasi terbaru bagi para nahkoda.

“Peningkatan kompetensi mencakup bukan hanya kelengkapan lisensi, tetapi juga pemahaman yang mendalam mengenai standar keselamatan dan pelayanan yang baik bagi penumpang,” tegas Sumarlin.

Inisiatif ini diharapkan memperkuat Labuan Bajo sebagai destinasi wisata premium yang didukung oleh tenaga kerja maritim lokal yang profesional dan terampil.

Langkah ini merupakan hasil kolaborasi yang diprakarsai oleh Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo.

Kepala KSOP, Stefanus Risdiyanto, menjelaskan bahwa permasalahan pemeriksaan kesehatan pelaut teridentifikasi setelah melakukan audiensi dengan pelaut, asosiasi pemilik kapal seperti Gahawisri dan Adset, serta agen kapal yang tergabung dalam FOKAL.

“Kami menemukan bahwa fasilitas untuk medical check-up (MCU) pelaut belum ada di Labuan Bajo. Oleh karena itu, tahun lalu KSOP mendorong Rumah Sakit Siloam untuk menyediakan fasilitas MCU,” ujarnya, Kamis (19/2), Pagi

Setelah berkoordinasi dengan Direktorat Perkapalan dan Kepelautan serta Balai Kesehatan Kerja Pelayaran, RS Siloam resmi dapat melaksanakan pemeriksaan kesehatan wajib bagi pelaut.

“Dengan begitu, pelaut tidak perlu lagi ke luar daerah untuk melakukan pemeriksaan kesehatan yang merupakan syarat penting di dunia pelayaran,” jelas Stefanus.